When I Was a Child

Special 4u  Tagged No Comments »

I dreamed of grown up moments

and now

I wish I were just a child again

when all I knew was innocence…

when I could cry as loud as I wanted

when I would stand on a chair

only to sing an unclear song

and still my little mates would clap their hands

when all I could draw were

a cloud, a mountain, a house, a coconut tree

and a butterfly bigger than the tree

and got the whole praise for that

when I would run in the rain -

naked without being ashamed

when I could just being lazy the whole day

and still foods will be served there

childhood…

when no awareness required

when understandings was not of concern

0h wait a sec…

I can see the difference

in there, I wasn’t aware that it was love

I didn’t know that I was living a life

I didn’t understand that it was me

yea…

I like the now

I like this time

right now

though I need to struggle for certificates

rite… also for knowledge and friendships - of course (hah!)

though I need to think of going to work

to maintain Rupiah in my pocket ($$$)

though I’m aware of my demanding needs

and try to find ways to fulfill them

I can see me now on the way

of searching and living

though I don’t understand all things

I don’t have to understand everything anyway…

I begin to know what love is

what to love and being loved is

maybe it is all (K’U)

7 Tips On How To Deal With Difficult Clients

Uncategorized No Comments »

We deal with people on a day to day basis and no two are the same. Some are easy to deal with while others need kid gloves and yet others drive you up the wall. If you are working, you are sure to encounter all kinds of clients as well. Some are controlling, others are overly demanding, some are prone to micro management, while others do not respect your time; the list can go on. Here are some tips to tackle this situation.

1. Time management
It is quite possible that you might be working with more than one client. In this situation, it is imperative to keep a realistic schedule and stick to it as much as possible. Allocate time to clients as per the requirement of the project and follow it faithfully. Respect their time and make sure they respect yours. Make sure your clients respect appointments as well.

2. Communicate
Communicate regularly with the clients. Keep them posted on the progress of the projects. Give advance notices and reminders to ensure client availability at appointed times. Remember, this works both ways. This will take care of over-bearing types who refuse to admit you might have other clients to work with as well.

3. Educating clients
One of the best things you can do is educate the client about the nuances of the assignment or the project. Let them know what it takes to successfully complete it. They will appreciate your efforts and learn to respect the space you need.

4. Clients with controlling mentality
The best way to deal with such clients is to bombard them with information. The more they know, the more comfortable they will feel. Keep them in the loop at all times and make sure they are personally involved. If you get lucky, you can even offload some of your supervision directly to them!

5. Learn to listen
Not all clients are difficult because of their personality traits! They are always driven to be that way for a reason. Learn to ‘really’ listen to their concerns and fears and address them directly at the root. Maybe you will appreciate where they are coming from and help them to relax.

6. Keep written records
It is a good practice to keep a written record of periodic progress, issues handled, communication in relation to those etc. This will help all the stake holders up to speed on the activities and will also save your back-side in case there is a problem in future.

7. It is not imperative to save all client relations
You must be sensitive to your client’s fears, anxieties and issues. However, you must learn to differentiate between clients who are difficult for a reason and clients who are taking a toll on your time and energy for no apparent reason. It is best to get rid of such clients and focus your attentions on more deserving clients.

Dealing with difficult clients can be quite tricky. You need to walk the fine line between professionalism and personal involvement without getting sucked into a stale-mate situation! But with these tips you can overcome challenges to working with such clients.

http://www.topicplanet.com

10 Kesalahan Jatuh Cinta

Special 4u No Comments »

Jatuh cinta memang berjuta rasanya. Biasanya orang yang sedang jatuh cinta memang cenderung “buta”. Tidak jarang orang yang sedang jatuh cinta melupakan hal-hal mendasar yang sebetulnya penting untuk diperhatikan.


Nah, berikut ini 10 uraian kesalahan yang kerap dilakukan ketika seseorang jatuh cinta :

1. Menciptakan hubungan asmara tanpa membangun persahabatan dengannya.
Mungkin kita memang benar jatuh cinta secara mendalam padanya, tapi jangan lupa luangkan waktu sedikit banyak untuk mengetahui atau memperhatikan apa yang sesungguhnya ia inginkan atau ia perlukan. Sisihkan waktu untuk mempelajari kepribadiannya bukan hanya fisik semata.

2. Tidak jujur kepada diri sendiri.
Seringkali orang yang sedang jatuh cinta memberikan batas toleransi yang berlebihan kepada pasangan. Mereka berpura-pura seolah-olah sikap pasangan bukan merupakan gangguan yang besar pada diri mereka atau mereka berharap agar masalah itu selesai seiring dengan berlalunya waktu

3. Tidak “memperhatikan” diri sendiri selama menjalin hubungan asmara.
Banyak orang yang lupa “memperhatikan” dirinya sendiri selama menjalin hubungan asmara. Kebanyakan orang yang sedang dimabuk cinta ingin selalu berduaan dengan kekasihnya. Akibatnya orang-orang di sekitar mereka merasa diabaikan sehingga lambat laun tanpa mereka sadari teman-teman pun menjauh. Ini mempunyai akibat yang buruk di masa mendatang. kita akan dicap kuper dan bila kita sedang jenuh bersama sang kekasih, tidak ada seorang teman pun yang bersama dengan kita.

4. Menggantungkan kebahagiaan diri kita ke pasangan.
Jika selama ini kita berpikir bahwa kebahagiaan kita bergantung pada pasangan, maka kita salah. kita boleh jatuh cinta pada siapa saja namun tidak berarti bahwa orang tersebut dapat membuat kita bahagia. Kebahagiaan diri kita bergantung pada kita sendiri dan jangan sesekali kita memusatkan seluruh hidup dan perhatian hanya pada satu orang saja karena jika demikian, berarti kita telah menutup wawasan dan kesempatan untuk menjadi lebih baik bagi diri kita sendiri.

5. Cinta membutuhkan waktu.
Seringkali seseorang lupa akan point yang penting ini. Cinta selalu membutuhkan waktu, baik untuk mengenal maupun untuk bertumbuh. Terlalu cepat memulai suatu hubungan berakibat kurang baik karena mungkin kita belum mengenal dengan baik karakter pasangan, sebaliknya jika kita terlalu terburu-buru mengambil keputusan untuk meninggalkan pasangan hanya karena permasalahan sepele juga kurang bijaksana. Karena itu sebaiknya beri waktu yang cukup bagi diri sendiri untuk mengenal pasangan.

6. Terlalu fokus pada sex.
kita harus menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang senang menjadi objek sex. Jangan jadikan sex sebagai prioritas
suatu hubungan, sebaliknya jadikan sex hanya sebagai pemanis dalam hubungan berdua ( dengan catatan sex hanya bole di lakukan bagi mereka yg udah terikat oleh pernikahan) . Fokuskan perhatian kita dalam membangun jalinan asmara yang solid bersamanya. Buatlah rencana yang jelas untuk masa mendatang.

7. Berkencan tanpa tujuan yang jelas.
Kencan memang merupakan aktivitas yang seru dan menyenangkan, namun jika kita tidak mempunyai tujuan yang jelas dan tidak tahu apa yang kita cari atau kita inginkan maka cepat atau lambat hal ini akan membuat diri kita menjadi lelah baik secara fisik maupun mental. Jadi lebih baik tentukan dahulu apa yang kita cari dari suatu hubungan asmara dan apa yang kita inginkan dari calon pasangan.

8. Berprinsip bahwa sex dapat menyelesaikan semua masalah.
Tinggalkan prinsip seperti ini. Walaupun kita bersedia menyerahkan diri kita seutuhnya kepada pasangan, tidak menjamin bahwa pasangan akan setia atau tidak akan meninggalkan kita. Segera ubah pola pikir kita. Jangan biarkan diri kita dibodohi dengan iming-iming jika kita bersedia melakukan hubungan sex maka pasangan akan semakin mencintai kita. Itu justru membuktikan bahwa pasangan tidak mencintai kita dan hanya menginginkan kesenangan semata.

9. Memprioritaskan kecantikan fisik.
Ini juga merupakan salah satu hal yang kerap terjadi. Umumnya kecantikan fisik menduduki skala prioritas utama dari pada kecantikan batin. Padahal kecantikan batin jauh lebih bermanfaat dan tahan lama.

10. Kembali melakukan kesalahan yang sama.
Pernahkah kita mengintrospeksi diri mengenai kegagalan asmara kita di masa lalu? Sebelum memulai hubungan yang baru, ada baiknya kita mengintrospeksi diri dan melihat kembali dimana kesalahan kita. Dengan mengetahui letak kesalahan, kita dapat belajar untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama

You Are Who You Think You Are Email to a friend

Uncategorized No Comments »

Apakah Anda pernah mendengar atau membaca kalimat judul di atas?

Saya yakin 90% dari Anda yang sedang membaca artikel ini pasti mengangguk. Dalam satu dekade terakhir, kalimat tersebut menjadi sangat popular dan dipakai terus menerus dalam buku-buku pengembangan kepribadian, buku-buku bisnis dan psikologi popular.

Namun pada kenyataannya, kalimat di atas bukan ditemukan dalam satu dekade terakhir ini, melainkan dapat ditarik mundur sampai ke jaman Budha atau Sidharta Gautama saat beliau sedang menyebarkan filosofi budha nya. Itu pun belum ujung pangkalnya, karena masih dapat ditelusuri lebih jauh lagi sampai tepat ketika filosofi baru diperkenalkan di tanah Yunani.

Di antara kerumunan orang-orang yang tengah berbelanja di pasar dan ditengah-tengah keramaian plasa, seorang pria berdiri dan berteriak lantang mengenai filosofi yang saat itu masih sangat asing.

Pria tersebut bernama Plato. Dalam orasinya, dia sering sekali menggunakan perumpamaan tentang manusia yang hidup dalam gua yang melihat dunia luar hanya lewat bayangan yang dipantulkan matahari pada dinding gua. Manusia yang berada dalam gua selalu melihat bayangan orang-orang lain yang lewat di depan gua tanpa pernah mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar gua. Mereka tidak akan pernah mencoba untuk keluar dari gua mereka karena mereka dengan sangat yakin dan percaya kalau gua yang mereka tinggali adalah tempat yang memang harus mereka tinggali, tidak ada realita baru di luar gua tersebut. Mereka telah hidup puluhan tahun dalam gua mereka sendiri dan tidak mau mengalami kengerian untuk bergerak keluar dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar sana.

Apakah Anda sudah melihat hubungannya? Antara ‘You become who you think you are’ dengan ‘para manusia yang berada di dalam gua Plato’?

Ketika Kei menulis artikel tentang cara ngehit yang benar, berapa banyak diantara Anda yang telah mencoba melakukannya? Ketika Kei menyarankan Anda untuk keluar dan berbicara dengan wanita asing, apakah Anda melakukannya?

Now stop for a second.. Saat Anda membaca paragraf terakhir diatas, apakah tiba-tiba otak Anda mengeluarkan setumpuk alasan kenapa Anda tidak melakukan apa yang disarankan oleh Kei?

Apakah alasan seperti dibawah ini tiba-tiba muncul di kepala Anda?

Saya terlalu sibuk bekerja
Saya punya banyak kegiatan lainnya
Saya malas kemana-mana lagi sesudah bekerja
Saya punya banyak tugas
Saya tipe yang pendiam
Saya masih konsentrasi dengan pekerjaan saya
Saya mau mengumpulkan uang dulu

You are who you think you are.

Saat saya, Lex dan Kei pertama kali membuka workshop kami menemukan bahwa salah satu hal yang menjadi hambatan bagi para pria untuk menjadi lebih baik bukanlah keadaan ataupun hal-hal seperti fisik, kekayaan, kepintaran, tetapi yang menjadi hambatan terbesar adalah diri mereka sendiri.

Tanpa kita sadari selama bertahun-tahun kita telah hidup di dalam realita yang salah. Kita telah hidup di dalam gua dan hanya bisa menatap bayang-bayang orang lain di dalam gua sambil mengutuk dan memberikan beratus-ratus alasan.

Mungkin saja alasan diatas memang benar diantara alasan-alasan lainnya kenapa Anda tidak keluar dan berbicara dengan wanita, tetapi kenyataannya Anda tidak akan pernah berhasil, jika Anda terus menerus mendengarkan berjuta-juta alasan tersebut dan lama kelamaan alasan-alasan tersebut akan membenarkan dirinya sendiri dan menjadi realita baru Anda, seperti yang telah terjadi sekarang.

You are who you think you are.

Saya yakin Anda pernah dalam posisi dimana di sebelah Anda duduk seorang wanita yang menarik. Kepala Anda menjerit-jerit meminta Anda untuk mencoba mempraktekkan apa yang telah disarankan Kei. Tetapi tiba-tiba berjuta-juta alasan datang dan menutupi jeritan tersebut.

Anda tertelan dalam alasan-alasan tersebut, tenggalam dalam realita yang selama ini Anda buat dalam gua kepala Anda.

Dan Anda dengan sukses mempraktekkan kalimat yang saya ulang berkali-kali di atas.

You are what you think you are.

Salah satu arti dari filosofi manusia di dalam gua oleh Plato adalah bahwa sering kali manusia hidup didalam realita yang palsu yang telah dibentuk sebelumnya. Dan bahwa sebenarnya ada realita lain dibalik bayangan-bayangan didalam gua tersebut (yaitu di luar gua) dan realita lain tersebut hanya dapat ditemukan oleh mereka yang benar-benar mencoba mencarinya dan menembus rantai realita yang selama bertahun-tahun mengurung mereka.

Jika selama ini alasan-alasan yang berputar di kepala Anda tidak membawa Anda selangkah lebih maju dalam dunia romance dan malah membawa Anda semakin jauh, maka saatnya Anda berhenti mendengarkan alasan-alasan tersebut dan lakukan apa yang selama ini Anda tunda-tunda. Jangan lagi menjadi Pria yang selalu pintar mengeluarkan alasan hanya karena sebenarnya Anda takut untuk mencoba sesuatu yang baru, hanya karena Anda tidak yakin apakah yang saya, Lex dan Kei beritahu pada Anda benar atau tidak.

Keluar dari gua alasan Anda dan lakukan apa yang seharusnya sudah Anda lakukan sejak pertama kali Anda menemukan hitmansystem. Keluar dan kerjakan apa yang selama ini telah Anda baca dan coba buktikan kalau apa yang kami beritahu pada Anda tersebut salah.

Saya, Lex, Kei dan alumni-alumni Hitman System jauh lebih senang mendengar Anda keluar dan mencoba dan kemudian memberitahu kalau kami salah dibandingkan mereka yang hanya duduk diam, membaca dan kemudian tidak melakukan apapun dan malah menertawakan mereka yang tengah berusaha untuk menembus rantai yang selama ini mengikat mereka.

Selama perjalanan hampir 3 tahun ini, saya sering mendengar cerita dari alumni-alumni mengenai teman-teman mereka yang menertawakan mereka yang dengan berani melangkah keluar dari gua mereka. Dan pada akhirnya mereka yang menertawakan tetap berada di dalam gua sambil menduga-duga apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar sana. Sementara mereka yang berani mengambil keputusan telah berada di luar dan menikmati hasil yang dengan susah payah mereka capai dan tidak lagi tidur berselimutkan alasan-alasan yang dulu mengekang mereka.

Sama seperti dua orang pria yang terpilih sebagai pemenang di antara nyaris seratus aplikan yang berpartisipasi dalam Project Halloween tempo hari. Pada artikel tersebut, kami menulis bahwa proyek baru aktif pada tanggal 7 November 2008, namun pada kenyataannya dijalankan yang kami adakan pada tengah malam di tanggal perayaan Halloween itu sendiri.

Kami sengaja memberikan informasi yang salah mengenai waktu penyelenggaraan Project Halloween untuk memberikan kejutan yang maksimal. Tepat pukul satu dini hari tersebut, saya mengetuk pintu rumah salah satu pemenang dari Project Halloween untuk memberitahu kalau dia adalah salah satu pemenang. Satu jam kemudian, Kei mengetuk pintu rumah pemenang yang lainnya dan memberitahu hal yang sama. Sekalipun sudah terpilih sebagai pemenang, mereka masih harus memilih salah satu hadiah yang mereka akan dapatkan di balik kartu bertuliskan TRICK dan TREAT di tangan Lex.

Setiap kartu menyimpan hadiah tersendiri: TRICK berarti memenangkan One Day Private Workshop yang mengajarkan selu-beluk trik ngehit, sementara TREAT memenangkan One Day Private Workshop yang mengajarkan konsep yang lebih fundamental, yakni paragdima glosifikasi.

Pemenang yang pertama mendapatkan kartu Trick dan pemenang yang kedua mendapatkan kartu Treat. Di tengah malam tersebut, di antara kesunyian malam yang mencekam, dua pemenang melihat sebuah realita baru yang selama ini tidak pernah dapat mereka bayangkan.

Akan tetapi Project Halloween tidak berhenti sampai di situ saja. Di akhir acara, setelah melewati sebuah tantangan dari kami, kedua peserta harus berhadapan dengan kartu TRICK OR TREAT lagi untuk kesempatan gratis mengikuti Exclusive Workshop secara penuh selama tiga hari untuk melengkapi apa yang telah mereka dapatkan sebelumnya.

Apakah Anda dapat membayangkan apa yang mereka telah lalui seminggu kemarin?

Dua orang yang dengan berani memutuskan untuk keluar dari gua mereka dan mencoba membuktikan apa yang kami tawarkan. Dua Pria yang mengirimkan aplikasi mereka dan keluar sebagai pemenang. Dua Pria yang dengan berani melewati tantangan yang kami berikan dan mereka keluar sebagai pemenangnya.

You are who you think you are.

Sekarang saya ingin Anda memutuskan apakah Anda masih ingin terus hidup dalam dunia yang selama ini Anda pikir adalah realita Anda? Dunia yang selama ini membuat Anda menangis pilu melewati penolakan demi penolakan? Melewati malam yang sepi dan senyap?

Apakah Anda masih ingin terus berkutat dan melahirkan ratusan alasan baru yang menghalangi Anda untuk keluar dari kesendirian hidup Anda?

You are who you think you are, bro!

Saatnya Anda berdiri! Injak semua alasan yang selama ini Anda buat! Dan saatnya untuk Anda berjalan tegap keluar dari gua Anda yang gelap dan sunyi dan menghampiri realita baru yang akan merubah hidup Anda untuk selamanya! (http://hitmansystem.com)

Top Ten Ways to Get Involved with Social Entrepreneurship

Uncategorized No Comments »

by Nathaniel Whittemore

1. Read

Although the field is young, the excitement and passion of those involved has already begun to produce volumes of articles, books, and case studies that give you can help you understand the challenges and opportunities of social entrepreneurship to create change. “The Power of Unreasonable People,” by John Elkington and Pamela Hartigan or “How to Change the World,” by David Bornstein are great starting points. For more, see our “Top 10 Social Entrepreneurship Reads”

2. Reach out to a social entrepreneur

Social entrepreneurs are people, just like you and me, who care deeply about an issue and have found a way to do something innovative about it. Most, if not all of them, remember the moments where they realized that they had to do something, and are excited to share their stories with up-and-coming change-makers. The internet has broken down the barriers to communication, so look ‘em up and reach out! Use this channel or www.socialedge.org to figure out who to connect with.

3. Fundraise

No matter how well publicized an organization is, almost all social enterprises (particularly those in startup and growth stages) need more money than they have. Social entrepreneurs rely on networks of friends and supporters to take some of the fundraising burden off their shoulders and allow them to focus on their missions. So get creative; instead of just donating a few dollars once, organize a group of your friends to give collaboratively every month. Change.org is just one of an incredible number of tools you have to help build the networks of support that good organizations rely on. For more options, check out www.socialactions.com.

4. Volunteer or get an internship

While fundraising is great, it can be even more rewarding to see an organization you care about in action. With organizations providing direct services you may be able to work directly with the communities social entrepreneurs seek to support. For some others, your opportunities may be more based in office work and administrative tasks. Either way, being part of a team in an entrepreneurial, mission-driven organization is an incredibly rewarding (and challenging!) experience. Check out Change.org or Idealist.org for opportunities

5. Advocate

One of the things that often distinguishes social entrepreneurs is their desire not only to remedy a problem, but to change the social landscape that allowed that problem to happen in the first place. For many organizations, this means pairing their philanthropic endeavors with government advocacy. Like fundraising, advocacy efforts require support from people like you, organizing your friends, peers and social networks.

6. Go to the source and LISTEN

The most important thing anyone who wishes to create change can do is to spend time with and learn from the communities experiencing the poverty, injustice, and inequality you wish to address. Nonprofits have long known that the most sustainable solutions to any problem are those that come from impacted communities, but it’s only recently that our transportation and communication infrastructures have given average people the opportunity to learn from one another. Intern abroad, do a volunteer vacation, work in a different part of your town. Just listen, listen, listen. No matter what you end up doing, your efforts will be better for it.

7. Enroll

Increased interest in social entrepreneurship has prompted business schools like Haas at Berkeley and Kellogg at Northwestern and undergraduate departments to begin to offer courses, certificates and even degrees in social entrepreneurship and social enterprise. If you’re a currently a student or thinking about going back to school, programs in social entrepreneurship can be indispensable in giving you the analytic and reflective tools to run and support entrepreneurial, mission-driven organizations.

8. Enter a competition

So you care passionately about an issue and think you’ve got a good plan for addressing some social ill, but you’re not sure you’re ready to start an organization? A great way to test an idea is to enter a university business plan competition such as the Global Social Benefit Incubator, or even an online competition like ideablob.com or changemakers.net. These structured environments will force you to think about your idea in new ways and more practical terms, and can help you understand whether you’re ready to take the plunge of starting a new organization.

9. Always challenge yourself

One of the hallmarks of a good educational experience is that it provides you materials that directly challenge what you think you believe. For aspiring social entrepreneurs, or even just those interested the field, it’s as if not MORE important to read criticism like Michael Edwards “Just Another Emperor” and constantly reflect upon your own ambitions. Another great challenge for would-be social entrepreneurs is to ask yourself if you really need to start a new organization, or whether your efforts would be better spent supporting ongoing work. Remember, ideas that challenge your believes don’t undermine your passion and commitment to social justice; they reinforce it and better prepare you for tackling complicated problems.

10. Start your own organization

So you’ve learned from other social entrepreneurs, read about your field, and spent time learning directly from people who experience the problems you want to address. You’ve read and reflected to challenge your own ideas, entered a competition, and you’re convinced you’ve got something. Go for it, and go for it all the way. Building organizations is not easy, but its possible, it’s important, and if you proceed in the right ways, it can be incredibly rewarding. And hey, you know where to come for support and ideas, right?


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in