Oleh: Supriadi)*
Banyak yang berpikir bahwa semua kesenangan hidup seakan dapat dibeli dengan uang; jabatan, titel, hukum, kehormatan bahkan orangpun bisa dibeli. Sedangakan dengan kekuasaan, semua keinginan bisa
dicapai, semua hambatan bisa disingkirkan. Dengan menggenggam dua hal itu; harta dan kekuasaan, dunia seakan sebagai sorga. Benarkah demikian?
Manusia sebenarnya tidak pernah bisa benar-benar menikmati.. Nikmatnya makanan lezat hanya dirasakan
pada kali yang pertama dan kedua. Ketika makanan lezat yang sama dihidangkan berturut-turut selama dua tiga hari, maka lidah tidak lagi merasakan kenikmatannya, sebalinya berubah menjadi bosan dan muak. Demikian juga dengan uang. Ketika pertama kali orang memiliki uang sejuta rupiah, maka kebanggaan menyelimuti hatinya, tetapi ketika satu milyard sudah berada di tangan, maka ia tidak lagi dapat merasakan kebanggaan atas uang satu juta. Begitulah hati manusia terhadap materi; uang, pakaian, rumah, kendaraan, makanan dan seterusnya.
Demikian pula dengan kursi kekuasaan yang menjadi barang rebutan dewasa ini. Ketika pertama kali seseorang berhasil menduduki jabatan dalam struktur kekuasaan, maka ia berbangga hati dengan jabatannya itu. Tetapi ketika berhasil naik ke jenjang kekuasaan yang lebih tinggi, maka banyak yang memandang kecil makna jabatan dibawahnya. Ketika sudah berada dalam kursi kekuasaan yang tertinggi, maka pada gilirannya ia mengidap perasaan takut jatuh dari ketinggian. Oleh karena itu yang dilakukan kemudian adalah bagaimana mempertahankan kekuasaan agar tidak jatuh. Ketulusan bisa berubah menjadi kecurigaan, keindahan pengabdian berubah menjadi rekayasa palsu. Harta dan kekuasaan seringkali mengubah perilaku manusia dari lembut menjadi kasar, dari persahabatn menjadi permusuhan,
dari ketenangan menjadi kegelisahan, dari keadilan menjadi kezaliman. (Agussyafii, 2006)
Saiman ,S.S mengatakan bahwa penguasa itu mendapat mandat untuk bekerja memenuhi harapan rakyat sehingga kekuasaan dimilikinya adalah untuk memenuhi kewajiban. Rakyat adalah junjungan penguasa, bukan sebaliknya. Namun dalam perkembangan politik moderen dewasa ini, kekuasaan sering memanfaatkan agama untuk legitimasi sehingga para penguasa disamakan dengan Tuhan (Pontianak Post, 8 Agustus 2006).
Apa yang akan terjadi jika para penguasa hanya memanfaatkan kekuasaanya untuk kenikmatan dunia semata? Apa yang akan terjadi jika orang kaya menganggap dunia semata sebagai surganya?
Mereka lupa bahwa semua yang dimiliki di dunia ini hanyalah cobaan atau ujian belaka. Bencana tidak akan menjadi pertanda bagi manusia-manusia yang buta, yaitu mereka yang tidak mampu melihat segala peristiwa. Kesenangan dan kemewahan hidup, kelapangan dan keluasan rezeki, kebanggaan dan kekuasaan bisa dipandang sebagai bencana.
Sebaliknya; penderitaan, kesedihan, kesulitan, kekurangan harta bahkan kehilangan jiwa, dapat dipandang sebagai anugerah yang tidak ternilai bila kita dapat menyikapinya dengan ketangguhan mental dan keteguhan jiwa serta tetap konsisten berada di jalanNya.
Dalam Al-Quran disebutkan (yang artinya) : "Dan benar-benarlah kami akan menguji kamu dengan sesuatu; baik berupa ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, dan jiwa dan tetumbuhan. Berilah berita gembira kepada orang-orang yang shabar. Yaitu mereka yang apabila ditimpa mushibah,mereka berkata, sesungguhnya kita dari Allah dan sesungguhnya kepadaNya-lah kita kembali".
Kekuasaan sebagai sarana dakwah Mari sejenak kita mengambil pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi teladan sepanjang masa. Ketika Nabi Muhammd SAW berdakwah lewat kekuasaannya. Beliau mengikirim surat-surat kepada para raja berulang-ulang kali untuk mengajak pada jalan kebenaran. Mengapa raja yang diajak masuk Islam ? Mengapa bukan rakyatnya ? Mengapa beliau tidak memulai dakwah di negeri lain seperti di Mekkah dengan metode dakwah sirriyah (rahasia) selama 3 tahun lamanya ? Mengapa langsung mengajak raja masuk Islam ?
Jawabnya karena raja punya kekuasaan sehingga dengan masuk islamnya sang raja, maka dengan mudah Islam bisa berkembang, minimal akan merasakan kemulusan jalan dakwah yang memang dibutuhkan. Bahwa ada raja yang menolak ajakan itu bahkan ada yang merobek-robek surat beliau, itu adalah resiko dari sebuah bentuk dakwah. Tetapi yang masuk Islam dan merubah negaranya menjadi Islam jelas ada dan itu menjadi titik keberhasilan dakwah menuju jalan kebenaran. (Syufrizal Abu Ikhwan 2006)
Lalu apakah kewajiban para penguasa dan orang-orang kaya saat ini? Menurut Agussyafii mereka wajib mengikuti aturan agama. Dengan demikian maka kekuasaan dan kekayaan akan membangun dengan kemaslahatan dan kesejahteraan umum. Orang kaya membayar zakat, sedekah dan infaqnya, masyarakat miskin merasakan manfaat dari kehadiran orang kaya. Orang-orang miskin yang terbantu menghormati, menyayangi, mendoakan, membela dan melindungi orang kaya, dan orang kaya yang patuh beragama ini hidup tenang aman dan bahagia.
Demikian juga penguasa yang mematuhi ajaran agama, ia tidak merasa sebagai penguasa, tetapi merasa sebagai pelayan masyarakat. Kekuasaan yang efektif bisa melindungi si lemah dari kezaliman, bisa memaksa orang kaya untuk membayar kewajibannya. Demikian juga menduduki kursi kekuasaan dari lalai dan semena-semena hanya akan menempakan penguasa menjadi boneka kepentingan.
Selain itu, keadilan melalui hukum dan kesadaran bersama harus ditegakkan agar masyarakat merasa aman, percaya diri dan bercita-cita. Dalam suasana keadilan yang merata orang kaya merasa tidak sia-sia berbuat baik dengan hartanya, penguasa merasa berani untuk bertindak fair karena didukung oleh rasa keadilan
masyarakat. Jika kita semua kembali ke fitrah yang sebenarnya maka kehidupan keluarga, masyarakat bangsa dan negara berada dalam suasanan adil, aman dan damai sehingga terbangun cita-cita yang tinggi. (http://groups.yahoo.com/group/tauziyah).
Dr. Aswandi menyatakan bahwa lebih baik menjadi orang kecil, yang dari tangan mereka lahir karya besar dan bermakna bagi umat manusia daripada menjadi orang besar (punya harta melimpah, pangkat, jabatan dan simbol prestise lain) sehingga merasa dirinya besar. Namun, ternyata di lingkungannya sendiri, mereka hanya melakukan hal kecil atau gagal mengantarkan anaknya mencapai cita-citanya, dan bahkan hidupnya tidak bermakna hingga di usia tuanya, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain di sekitarnya.
(Pontianak Post, 31 Juli 2006)
Menutup opini ini, marilah kita kita (siapapun dan apapun jabatannya) melakukan yang terbaik bagi orang –orang di sekitar kita. Karena kesuksesan itu sesungguhnya adalah apabila hidup kita bermanfaat untuk orang lain. Bukan sebaliknya bukan?