OPSPEK, Why Not? Oleh: Supriadi
PROSESI Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) yang menjadi tradisi tahunan lewat kegiatan Orientasi Civitas Akademika dan Mahasiswa (OSCAMA) kembali digelar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura Pontianak. Organisasi kemahasiswaan yang tergabung dalam KBM FKIP Untan sepakat menyukseskan kegiatan tersebut didukung oleh civitas akademika FKIP Untan. Berbagai persiapan sudah dilakukan agar kegiatan yang berlangsung dari tanggal 3 s/d 5 September 2005 ini berjalan lancar dan sesuai harapan bersama.
Saat memasuki lingkungan baru, selayaknya seseorang diperkenalkan dengan kondisi kehidupan di lingkungan yang bersangkutan. Sama halnya dengan para lulusan SLTA yang memasuki perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan yang baru, juga dikenalkan dengan kehidupan kampus. Itulah gambaran global mengenai tujuan diadakannya orientasi mahasiswa FKIP Untan tahun ini. Kalau demikian adanya, keberadaan orientasi sangatlah tepat. Tanpa adanya orientasi, mahasiswa baru akan buta mengenai apa saja yang ada dalam kehidupan kampus. Selain itu, orientasi juga bisa dimanfaatkan untuk menguji dan menggembleng mentalitas mahasiswa baru agar mereka benar-benar siap memasuki "dunia baru". Yakni dunia kampus yang penuh dengan berbagai dinamika, yang sudah barang tentu tidak ditemui di masa-masa sebelumnya.
Di satu sisi, masa orientasi sangat dibutuhkan bagi mahasiswa baru namun di sisi lain orientasi yang berlebihan menghadirkan keprihatinan bagi kita. Konsep dan aturan di buat untuk agar pelaksanaan orientasi berjalan baik. Namun apabila konsep tidak dikoordinasikan dengan baik dan dilaksanakan dengan persiapan yang tidak matang, orientasi yang mempunyai tujuan yang baik itu bisa saja mengarah pada praktek perpeloncoan. Untuk mengantisipasi hal itu panitia OSCAMA didukung oleh Dekan FKIP Untan seluruh civitas akademika optimis kegiatan ini akan berjalan sesuai dengan harapan bersama. Perpeloncoan tidak sesuai zaman. Seperti itulah pendapat Dekan FKIP Untan, Dr Chairil Efendy yang disampaikan dalam Lokakarya Penerimaan Mahasiswa Baru yang di fasilitasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP Untan tanggal 9 Juni 2005 di Aula FKIP Untan.
Bagi banyak mahasiswa, masa orientasi adalah masa yang manis dikenang, tetapi tidak ingin diulang. Kerap terjadi apa yang dialami di masa opspek bakal dilakukan di masa-masa kuliah. Bagaimana seorang mahasiswa harus mengerjakan tugas hingga lembur, strategi apa yang harus dihadapi ketika harus berhadapan dengan dosen killer, bagaimana meredam kejengkelan ketika mendapat nilai E, padahal sudah melaksanakan kuliah dengan rajin. Kejadian ini merupakan pengembangan dari apa yang dialami di saat opspek. Bisa disimpulkan bahwa opspek merupakan kehidupan mini dari apa yang bakal terjadi di kehidupan kampus selanjutnya. Sehingga wajar jika dalam mengikuti ospek, dibentak senior karena tidak mengumpulkan tugas. Karena tidak menutup kemungkinan hal itu akan terjadi di kemudian hari. Kehidupan kampus yang lebih bernuansa kebebasan (dibanding saat di sekolah lanjutan), tentu harus diiringi dengan sikap, strategi, dan alur pikir yang lebih dewasa. Hal-hal yang ditugaskan oleh panitia atau senior bukan harus disikapi dengan anggapan bahwa hal itu merupakan perpeloncoan semata. Sebagai orang yang mulai beranjak dewasa, mahasiswa baru dituntut untuk berpikir cerdas, mencari strategi bagaimana mensiasati atau melaksanakan tugas para seniornya. Hal ini akan berlanjut jika memasuki bangku kuliah, kita harus mempunyai strategi jitu saat menghadapi hambatan dan rintangan, baik dari dosen, teman, atau bahkan dari lingkungan yang kerap tidak bersahabat. Perpeloncoan dari sebuah orientasi kampus ibarat kerikil tajam di jalanan. Bagaimana strateginya agar kerikil tersebut tidak terinjak. Inilah seninya memasuki kampus baru dengan beragam corak kehidupannya. Di sisi lain bagi mahasiswa baru yang menikmati masa orientasi dengan ikhlas dan gembira- bisa jadi masa-masa itu akan selalu dikenang hingga di kemudian hari. Peristiwa-peristiwa yang unik akan menimbulkan kenangan tersendiri, walaupun kita sudah cukup lama mengingatnya.
Apalagi saat kita melihat mahasiswa baru sedang sibuk menyiapkan segala keperluan ospek, kita akan tertawa sendiri. Jadi kesannya, masuk perguruan tinggi tanpa ospek bagaikan masakan tanpa garam. Merenunglah sejenak dan camkan pertanyaan ini: Apakah kegiatan orientasi harus ditiadakan? Kalau kita berpikir bijak, nampaknya jawabannya tidak perlu. Karena segala bentuk kegiatan akan memunculkan dampak. Sehingga akibat negatif itulah yang harus diminimalisasi. Harus diakui, jika kegiatan orientasi mahasiswa baru dilaksanakan dengan benar, kejadian yang tidak diinginkan akan sangat kecil. Bukan berarti membela panitia. Sebab bisa jadi peristiwa perpeloncoan yang berakibat fatal hanya dilakukan oknum. Disadari betul bahwa dalam kehidupan kita selalu saja ada oknum yang tidak bertanggung jawab. Perbuatan oknum inilah yang harus ditanggulangi, dengan membentuk tim pengawas independen misalnya. Dan pelaksanaannya, kegiatan-kegiatan dalam acara tersebut dilakukan benar-benar secara professional sehingga dapat berhasil guna dan tepat guna serta tidak disertai praktek perpeloncoan yang tidak bertanggngjawab.
*) Penulis Aktif di English Student Association (ESA) FKIP Untan Pontianak
|