Mampukah kita?

Uncategorized No Comments »

Danger Hari Ini

Oleh: Supriadi

   

Waktu terus berjalan menyisakan sedikit harapan untuk kehidupan yang lebih baik bagi kita semua.

Penulis pada coretan singkat ini mengajak kita semua untuk bertanya kepada diri sendiri, kepada mereka dan kepada kita semua. Tentang apa yang sudah, sedang dan akan kita lakukan. Untuk pembelajaran, untuk berbuat. Sebab, hsari kemaren, hari ini, dan hari esok menjadi saksi siapa diri kita sebenarnya. Hari ini hampir 22 juta orang sudah terinfeksi HIV/AIDS. 15.000 kasus baru dapat terjadi dalam sehari.

Hari ini jutaan orang masih tidak memiliki kesempatan pendidikan. Hari ini ribuan orang masih tidak memiliki keterampilan buat bekal kehidupan. Hari ini jutaan orang masih tidak memiliki tempat tinggal yang layak. Hari ini jutaan orang masih tidak memiliki makanan yang bergizi dan air bersih. Hari ini jutaan orang masih tidak memiliki pelayanan kesehatan yang layak. Hari ini jutaan orang masih tidak memiliki kesempatan mempunyai lahan pertanian sendiri. Hari ini jutaan orang masih tidak memiliki kesempatan bekerja dengan bayaran yang sesuai dengan keringat mereka. Hari ini jutaan orang masih tidak memiliki indahnya hidup aman dan damai. Hari ini jutaan orang masih dilanggar hak asasinya.

Mengapa kita membiarkan semua itu terjadi? Apa yang telah kita lakukan? Mengapa kita tidak menghentikannya agar tidak terus terjadi? Apakah yang bisa kita lakukan?

Sementra itu, hari ini juga jutaan anak-anak masih dieksploitasi sebagai pekerja. Hari ini mereka ikut berperang, bahka terlibat prostitusi. Hari ini jutaan perempuan menjadi korban kekerasan, eksploitasi dan deskriminasi. Hari ini berton-ton minuman keras da obat-obatan terlarang di produksi dan jutaan orang sudah kecanduan, tidak ketinggan majalah dan VCD porno. Hari ini jutaan orang masih terjajah atas nama pembangunan. Hari ini jutaan orang masih dideskriminasikan karena perbedaan ras atau suku, agama, perbedaan paham politik, perbedaan status sosial dan perbedaan yang lainya. Hari ini jutaan pohon atau hutan masih dibabat, bumi, sungai, udara tercemar dengan hebatnya.

Bagaimana kita membiarkan semua ini terus terjadi? Mengapa kita tidak menghentikannya agar tidak terus terjadi? Apakah yang bisa kita lakukan sekarang?

Mampukah kita? Mampukah kita membuat pendidikan menjadi lebih baik? Mampukah kita berbagi dengan sesama? Mampukah kita menghilangkan perasaan buruk sangka terhadap orang lain? Mampukah kita untuk jujur pada diri sendiri? Mampukah kita hidup dengan mendengar kata hati? Mampukah kita?

Mampukah mereka? Mampukah mereka memberikan fasilitas dan pelayanan pendidikan, kesehatan tanpa mendeskriminasikan status sosial? Mampukah mereka menyediakan makanan yang bergizi dan air bersih? Mampukah mereka menyediakan lapangan pekerjaan dengan gaji yang sesuai? Mampukah mereka melindungai hak-hak anak sebagai generasi penerus bangsa ini? Mampukah mereka melindungi dan memberikan hak untuk hidup layak sebagai seorang manusia? Untuk hidup aman, damai dan sejahtera. Mampukah mereka memberikan keadilan kepada mereka dan kepada kita semua?

Bagaimana mereka membiarkan semua ini terus terjadi? Mengapa mereka tidak menghentikannya agar tidak terus terjadi? Apakah yang bisa mereka lakukan sekarang? Sebelum terlambat, sebelum semuanya sia-sia. Kita semuapun hanya bertanya “Mengapa kita tidak berbuat?”

“Manja”

Uncategorized No Comments »

Hoobastankeye Generasi Yang “Manja”

Oleh : Supriadi)*

Orang tua mana yang tidak sayang sama anaknya? Melihat anak bahagia adalah kebahagiaan yang tidak ternilai harganya. Apalagi melihat anak balita yang membuat gemas sehingga timbul keinginan untuk mencubit pipinya. “hmmm” ……….

Setiap hari makin bertambah rasa sayang kepadanya. Setiap hari ingin memberikan yang terbaik baginya. Kebahagiaan anak adalah hal yang harus diperjuangkan sampai titik keringat bercucuran. Bahkan mungkin sampai mempertaruhkan nyawa sekalipun akan dilakukan. Namun, banyak orangtua tergolong pencemas dan takut bila anaknya melakukan hal-hal tertentu. Apalagi anak-anak yang masih balita. Anak mau naik-turun tangga sendiri, kerap tidak diperbolehkan, dilarang, bahkan langsung digendong oleh orang tua atau pengasuhnya. Tanpa disadari, larangan itu justru menghambat kesempatan anak untuk belajar. Hal tersebut juga bisa menyebabkan anak akan cenderung penakut dan tak mampu mengontrol diri sendiri.

Kecemasan tidak hanya disebabkan rasa sayang orang tua tetapi juga merupakan bentuk kompensasi dari kesibukan atau perasaan ketidakkompetenan orangtua. Akibatnya adalah, anak tidak kunjung mandiri. Sebaliknya, Anak malah bersikap manja. (Diana Yunita Sari, 2006).

Seorang psikolog lulusan Fakultas Psikologi UI, Vera mengungkapkan bahwa yang membuat anak terlambat mandiri adalah orangtua yang cenderung terlalu protektif. Mereka merasa tidak nyaman melepaskan anaknya. Hal tersebut mempengaruhi tingkah laku, emosional dan hubungan sosial si anak.

Nah, apakah kita sebagai anak termasuk kategori anak manja? Atau hal tersebut juga sedang dialami anak-anak bapak ibu sekalian? Berikut beberapa hal yang cenderung dialami atau dilakukan anak yang manja. Diantaranya adalah anak yang manja sulit menyesuaikan diri diantara teman-temannya. Karena ia tidak paham bila berinteraksi sosial dengan orang lain ada aturan yang harus diikuti, bahwa anak harus saling berbagi, dan lain-lain. Rentang toleransi anak manja biasanya rendah.

Saat berada di kehidupan nyata, anak yang manja ini bisa terkaget-kaget. Anak tidak percaya diri, sebab di lingkungan sekitar tak semua orang akan peduli pada dirinya dan memenuhi keinginannya seperti halnya di rumah. Lebih bahaya lagi, anak akan menjadi penakut.

Bayangkan apa yang terjadi apabila kita masih tergolong manja sampai saat ini? Ketika belajar di sekolah atau kampus atau bekerja di kantor atau perusahaan akan sulit menyelesaikan masalah sendiri. Padahal kita dituntut untuk mandiri. Kita berhadapan dengan tantangan, permasalahan yang bisa membuat “stress” apabila tidak disikapi dengan bijak, kreatif dan mandiri tentunya. Bukan sebaliknya.

Meskipun semua itu merupakan proses kehidupan. Tapi, akan lebih baik jika dilakukan dari sejak dini. Tentunya dimulai dari lingkungan keluarga. Dimana orang tua memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada anaknya untuk “bergerak”, berkreasi dan bergaul tentunya dengan system pengawasan yang sesuai dengan keinginan bersama antara anak dan orang tua. Komunikasi dan saling menjaga kepercayaan antar anak dan orang tua akan melahirkan hubungan yang baik dan lebih bermakna tentunya.

Lalu bagaiman dengan anak yang lebih mandiri? Anak yang lebih mandiri biasanya mampu mengatasi persoalan yang dihadapinya. anak sebagai individu yang mempunyai konsep diri, penghargaan terhadap diri sendiri (self esteem), dan mengatur diri sendiri (self regulation). Anak paham akan tuntutan lingkungan terhadap dirinya, dan menyesuaikan tingkah lakunya. Anak mandiri mampu memenuhi tuntutan lingkungannya. Contohnya, anak usia 3-4 tahun yang sudah bisa menggunakan alat makan, harusnya bisa makan sendiri. “Nah, ini yang dimaksud kemandirian,” ujar Roslina Verauli, M.Psi., psikolog klinis anak dari Empati Development Center. (Tabloid Senior, Edisi: 23 Januari 2006)

Kemandirian itu tidak datang dengan sendirinya. Ia datang tentunya melalui sebuah proses pembelajaran seumur hidup (Long life Education). Misalnya saat berusia 3-4 tahun dan sudah mulai masuk kelompok bermain atau taman kanak-kanak, anak sudah paham bahwa ia telah mandiri secara emosional. Anak paham ibunya berada di luar kelas, sehingga ia tetap merasa nyaman. Saat merasa takut, anak bisa melihat ibunya sedang menunggu di luar. Ini berarti anak sudah bisa mengontrol dirinya.

Saat anak ingin memegang gelas, sendok, atau peralatan makan, sebenarnya sudah menjadi petunjuk gejala mandiri. Saat itulah orangtua maupun pengasuh bisa melatih anak memegang peralatan makannya dan makan sendiri. Atau saat anak ingin naik tangga sendiri, orangtua maupun pengasuh sebenarnya bisa memberi kesempatan padanya untuk melakukan hal itu. Selain itu, kewajiban kita semua (orang tua, pengasuh, guru) adalah dengan memberikan pendidikan kepada anak pendidkan emosional, pendidikan fisik dan pendidikan spiritual.

Pendidikan emosional misalnya dengan menanamkan nilai-nilai bahwa kesalahan adalah cara terbaik untuk kita belajar. Misalnya, kita belajar naik sepeda, kemudian jatuh dan naik lagi, jatuh dan naik lagi. Hal tersebut membuat kita bisa naik sepeda. Yang berdosa adalah melakukan kesalahan dan tidak belajar darinya.

Pendidikan fisik misalnya adalah dengan latihan berolahraga, belajar membaca maupun menulis, dan sebagainya yang melibatkan fisik. Lakukanlah dengan keberanian dan kemandirian. Hidup dalam proses fisik ketakutan adalah tidak sehat secara mental, emosional dan fisik.

Pendidikan Spiritual adalah untuk bisa mensyukuri. Segala pembelajaran dari hidup dan kehidupan kita dan belajar dari kesalahan. (MF. Fauzie, 2006) Upaya berikut dapat dilakukan orang tua untuk membiasakan anak agar tidak cenderung menggantungkan diri pada seseorang, serta mampu mengambil keputusan.

1. Beri kesempatan memilih. Sebagai seorang anak kita tentunya sering berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang sudah ditentukan oleh orang lain. Begitu juga dengan anak. Berilah ia kesempatan untuk memilih. Bila ia terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan sendiri bagi dirinya.

2. Berikan Pujian. Hal tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap usaha anak. Ia akan motivasi anak untuk berkembang dengan baik dan akan merasa percaya diri tentunya. Bukan sebaliknya.

3. Jangan cerewet! banyak bertanya terkesan cerewet dihadapan anak-anak. Meskipun maksud pertanyaan adalah untuk menunjukkan perhatian pada si anak, tetapi dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu banyak mau tahu. Karena itu hindari kesan cerewet.

4. “Don’t say impossible” (Jangan katakan mustahil atau tidak mungkin). Tak jarang orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan “Tidak mungkin” atau “mustahil” terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Kata-kata itu bisa mematahkan semangat bukan saja anak-anak tetapi juga orang dewasa.. Apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorongan untuk terus melakukanya adalah yang terpenting. Jangan sekali-kali membuatnya kehilangan motivasi atau harapan yang ingin dicapainya.

Pembaca yang budiman, seberapa pun sulitnya, kemandirian tetap bisa dilatih. Dengan pendidikan dan latihan mandiri, anak akan lebih percaya diri, bertanggung jawab, dan cerdas seperti harapan kita semua. Semoga melalui generasi yang mandiri inilah bangsa kita bisa keluar dari keterpurukan di masa akan datang. Bukan sebaliknya.

Artikel ini di terbitkan di Harian Pontianakpost                           Edisi Sabtu, 17 Januari 2007

Tanya Kenapa?

Uncategorized No Comments »

Malas Membaca, Tanya Kenapa?
Oleh: Supriadi)*

Pers"Sesungguhnya bencana besar bagi negeri ini apabila masyarakat malas membaca" Pernahkan anda mengalami setelah membaca buku, majalah atau koran, kemudian pada bagian akhirnya anda berpikir "apa yang baru kubaca?" tentu pernah bukan? Begitu juga dengan penulis sendiri. Hal tersebut kadang menimbulkan perasaan malas untuk membaca lagi. Namun mengingat akan betapa penting dan bermanfaatnya membaca, maka tidak ada kata kata malas seharusnya yang kita rasakan dan kita kita ucapakan.

Seorang tahanan pada perang dunia sedang berkecamuk harus menghadapi hukuman mati gara-gara keinginannya untuk membaca. Karena telah dikurung dalam ruang tahanan yang gelap dan pengap ia berbulan-bulan sudah tidak mengetahui informasi dunia luar. Ia pun nekat mengejar sebaran yang melayang-layang di atas atap penjara setelah di jatuhkan dari pesawat. Tapi sayang selebaran yang sudah ada ditangan dan sedang asyik dibacanya itu ternyata berada di daerah terlarang. Penjagapun datang dan kemudian langsung menangkapnya. Coba bayangkan betapa membaca sangat berarti bagi orang tersebut.

Quraish Shihab dalam tafsinya juga menyatakan tentang betapa pentingnya membaca (iqra’). Perintah membaca dalam ayat Alquran mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat, dan diri sendiri, bacaan tertulis baik sici maupun tidak. (Pustaka Hidayah, 1997). Lalu apakah rusaknya moralitas bangsa disebabkan oleh kurangya minat bangsa ini dalam membaca?

Terlebih lagi kaum intelektual belakangan ini sering digugat. Puncaknya adalah sejumlah anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang sebagian besar kaum akademisi ditahan akibat disangka korupsi. Kondisi itulah yang membuat Prof. Dr. Anna Pudjiadi (70) prihatin. Guru besar Universitas Pendidikan (UPI) Bandung ini menengarai, timbulnya moral hazard dalam masyarakat bisa jadi tumbuh dan kembang dari saat anak usia sekolah, baik di tingkat dasar, lanjutan, maupun perguruan tinggi. Peluang untuk saling mencontek saat ujian, atau "mencuri" karya orang lain, adalah embrio terjadinya tindakan tidak terpuji itu. Jika budaya buruk seperti itu tumbuh dalam dunia akademik, maka pantas seorang pejabat yang akademisi sekalipun kemudian turut terlibat korupsi, kolusi dan nepotisme. karena guru dan dosen seringkali malas membaca, khususnya hasil-hasil kerja murid atau mahasiswanya. (Pikiran Rakyat, edisi: Sabtu, 23 Juli 2005)

Namun, sangat disayangkan betapa masyarakat kita belum mempunyai budaya atau kebiasaan membaca yang baik. Kadang malas untuk membaca. Orang Indonesia lebih banyak menghabiskan uangnya untuk membeli rokok daripada untuk membeli buku maupun koran. Untuk membacanya kadang lebih tertarik meminjam dari teman atau orang lain. Bukannya tidak boleh melakukan hal tesebut. Namun, penekanan penulis disini adalah faktor motivasi atau dorongan kita untuk belajar melalui aktivitas membaca tersebut.

Apabila masyarakat malas membaca maka hal tersebut merupakan bencana besar bagi negeri ini. Lalu apakah yang menjadi penyebab kurannya minat baca masyarakat? Beberapa penyebab itu antara lain lingkungan yang tidak mendukung, tingkat pendidikan, sarana bacaan yang terbatas dan tidak menarik, serta rendahnya minat dan daya beli, dan sebagainya.

Katua Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI) Pusat, Sabarudin menerangkan penyebab tidak adanya minta baca. Beberapa penyebab itu antara lain lingkungan yang tidak mendukung, sarana bacaan yang terbatas dan tidak menarik, serta rendahnya minat dan daya beli. Selain itu, dia juga membandingkan jumlah surat kabar dengan penduduknya. Beberapa negara yang dijadikan perbandingan tersebut ialah Jepang, Srilanka, Singapura, Malaysia, Filipina, India, dan Indonesia. Perbandingan surat kabar Jepang yang diterbitkan dengan jumlah penduduknya pada 1991 adalah 1:1,73. Artinya hampir setiap orang Jepang membaca satu koran. Angka yang tidak jauh berbeda terjadi pada tahun berikutnya, 1994 dan 1995, yaitu 1:1,74. Dari semua negara tersebut tadi, Jepang merupakan yang paling gemar membaca media massa. Berikutnya Singapura, Srilanka, Malaysia, Filipina, lalu India. Sedangkan Indonesia ada pada urutan terakhir. Perbandingannyapun mencengangkan: 1:35,5; 1:40,2; dan 1: 41,8 untuk tahun 1991, 1994, dan 1995. Angka-angka itu sederhananya bias dipahami sebagai ukuran tinggi rendahnya minat baca negara masing-masing. (http://www.freelists.org/archives/ppi/09-2004/msg01093.html)

Para pembaca yang budiman, lalu bagaimana meningkatkan minat membaca masyarakat kita? Mulailah dari diri sendiri, mulai dari keluarga. Karena pendidikan keluarga merupakan basis pengetahuan. Terlebih lagi pada anak-anak di usia dini mereka. Berikut beberapa tips yang bias dilakukan khusunnya oleh orang tua kepada buah hatinya. Pertama, mulai dengan orangtua untuk memberikan contoh atau teladan dengan membaca. Kemudian, bacakanlah buku untuk anak setiap hari (jadikan kebiasaan). bacakan dengan ekspresi. Usahakan buku mudah dilihat dan dijangkau oleh anak. Lakukan dengan kegiatan mendongeng. Perkenalkan anak pada bacaan-bacaan yg ada di sekitar kita. Beri kesempatan mengarang. Libatkan seluruh anggota keluarga dan ajaklah bereksperimen dan untuk menghargai buku. Berikan hadiah kepada mereka yang sudah rajin dan gemar membaca.

Lalu apakah yang harus kita lakukan agar lebih mudah memahami apa yang sedang kita baca? Untuk mengukur tingkat pemahaman kita atau dalam membaca? Hal tersebut mudah untuk dilakukan. Cukup tanyakan pada diri kita sendiri apakah kita bisa merasakan apa yang sedang kita baca? dan apakah kita bisa menceritakan kembali isi acaan yang telah kita baca?

Sangat penting bagi kita untuk meningkatkan kemampuan membaca. Banyak seminar yang bisa kita ikuti maupun buku-buku yang bisa kita baca tentang bagaimana cara membaca yang efektif, tehnik membca cepat misalnya. Ketika kita membaca koran sebenarnya kita sudah menggunakan tehnik membaca cepat. Untung-untung membaca keseluruhan, kita biasanya membaca cerita yang tertangkap oleh kita, cerita yang dianggap menarik untuk dibaca, menonjol lalu melintas sekilas keseluruh koran untuk membaca judul-judul, foto, iklan, cerita lucu dan sebagainya yang menonjol. Jadi jangan malas-malasan lagi membaca buku-buku pelajaran atau dokumen-dokumen yang tebal karena metode membaca koran tersebut dapat diterapkan untuk membaca segala jenis materi bacaan. Melalui metode ini pikiran akan memahami, memilah dan menyimpan segala informasi sesuai dengan apa yang kita butuhkan.

Tidak diragukan lagi betapa membaca itu memberikan manfaat bagi siapa saja yang melakukannya. Maka tidak ada alasan malas bagi kita baik itu sebagai seorang pelajar di sekolah maupun di perguruan tinggi, guru, dosen, dan para akademisi lainnya, penjabat bahkan untuk segala jenis profesi. Membaca membuat kita bersentuhan langsung dengan kehidupan, bahasa, dan gaya-gaya penulisan. Maka dari itu, bacalah apa saja selagi kita masih punya waktu sebelum mata mulai kabur. Majalah, koran, novel, ensiklopedia, lirik-lirik lagu, buku-buku pelajaran, komik, pribahasa dan sebagainya. Bacalah semuanya.

(Penulis adalah mahasiswa PBS.FKIP Universitas Tanjungpura Prodi. Pendidkan Bahasa Inggris. Aktif menjadi Pembelajar).

Artikel ini di terbitkan di Harian PontianakPost EDISI: Sabtu, 6 Januari 2007


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in