Generasi Yang “Manja”
Oleh : Supriadi)*
Orang tua mana yang tidak sayang sama anaknya? Melihat anak bahagia adalah kebahagiaan yang tidak ternilai harganya. Apalagi melihat anak balita yang membuat gemas sehingga timbul keinginan untuk mencubit pipinya. “hmmm” ……….
Setiap hari makin bertambah rasa sayang kepadanya. Setiap hari ingin memberikan yang terbaik baginya. Kebahagiaan anak adalah hal yang harus diperjuangkan sampai titik keringat bercucuran. Bahkan mungkin sampai mempertaruhkan nyawa sekalipun akan dilakukan. Namun, banyak orangtua tergolong pencemas dan takut bila anaknya melakukan hal-hal tertentu. Apalagi anak-anak yang masih balita. Anak mau naik-turun tangga sendiri, kerap tidak diperbolehkan, dilarang, bahkan langsung digendong oleh orang tua atau pengasuhnya. Tanpa disadari, larangan itu justru menghambat kesempatan anak untuk belajar. Hal tersebut juga bisa menyebabkan anak akan cenderung penakut dan tak mampu mengontrol diri sendiri.
Kecemasan tidak hanya disebabkan rasa sayang orang tua tetapi juga merupakan bentuk kompensasi dari kesibukan atau perasaan ketidakkompetenan orangtua. Akibatnya adalah, anak tidak kunjung mandiri. Sebaliknya, Anak malah bersikap manja. (Diana Yunita Sari, 2006).
Seorang psikolog lulusan Fakultas Psikologi UI, Vera mengungkapkan bahwa yang membuat anak terlambat mandiri adalah orangtua yang cenderung terlalu protektif. Mereka merasa tidak nyaman melepaskan anaknya. Hal tersebut mempengaruhi tingkah laku, emosional dan hubungan sosial si anak.
Nah, apakah kita sebagai anak termasuk kategori anak manja? Atau hal tersebut juga sedang dialami anak-anak bapak ibu sekalian? Berikut beberapa hal yang cenderung dialami atau dilakukan anak yang manja. Diantaranya adalah anak yang manja sulit menyesuaikan diri diantara teman-temannya. Karena ia tidak paham bila berinteraksi sosial dengan orang lain ada aturan yang harus diikuti, bahwa anak harus saling berbagi, dan lain-lain. Rentang toleransi anak manja biasanya rendah.
Saat berada di kehidupan nyata, anak yang manja ini bisa terkaget-kaget. Anak tidak percaya diri, sebab di lingkungan sekitar tak semua orang akan peduli pada dirinya dan memenuhi keinginannya seperti halnya di rumah. Lebih bahaya lagi, anak akan menjadi penakut.
Bayangkan apa yang terjadi apabila kita masih tergolong manja sampai saat ini? Ketika belajar di sekolah atau kampus atau bekerja di kantor atau perusahaan akan sulit menyelesaikan masalah sendiri. Padahal kita dituntut untuk mandiri. Kita berhadapan dengan tantangan, permasalahan yang bisa membuat “stress” apabila tidak disikapi dengan bijak, kreatif dan mandiri tentunya. Bukan sebaliknya.
Meskipun semua itu merupakan proses kehidupan. Tapi, akan lebih baik jika dilakukan dari sejak dini. Tentunya dimulai dari lingkungan keluarga. Dimana orang tua memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada anaknya untuk “bergerak”, berkreasi dan bergaul tentunya dengan system pengawasan yang sesuai dengan keinginan bersama antara anak dan orang tua. Komunikasi dan saling menjaga kepercayaan antar anak dan orang tua akan melahirkan hubungan yang baik dan lebih bermakna tentunya.
Lalu bagaiman dengan anak yang lebih mandiri? Anak yang lebih mandiri biasanya mampu mengatasi persoalan yang dihadapinya. anak sebagai individu yang mempunyai konsep diri, penghargaan terhadap diri sendiri (self esteem), dan mengatur diri sendiri (self regulation). Anak paham akan tuntutan lingkungan terhadap dirinya, dan menyesuaikan tingkah lakunya. Anak mandiri mampu memenuhi tuntutan lingkungannya. Contohnya, anak usia 3-4 tahun yang sudah bisa menggunakan alat makan, harusnya bisa makan sendiri. “Nah, ini yang dimaksud kemandirian,” ujar Roslina Verauli, M.Psi., psikolog klinis anak dari Empati Development Center. (Tabloid Senior, Edisi: 23 Januari 2006)
Kemandirian itu tidak datang dengan sendirinya. Ia datang tentunya melalui sebuah proses pembelajaran seumur hidup (Long life Education). Misalnya saat berusia 3-4 tahun dan sudah mulai masuk kelompok bermain atau taman kanak-kanak, anak sudah paham bahwa ia telah mandiri secara emosional. Anak paham ibunya berada di luar kelas, sehingga ia tetap merasa nyaman. Saat merasa takut, anak bisa melihat ibunya sedang menunggu di luar. Ini berarti anak sudah bisa mengontrol dirinya.
Saat anak ingin memegang gelas, sendok, atau peralatan makan, sebenarnya sudah menjadi petunjuk gejala mandiri. Saat itulah orangtua maupun pengasuh bisa melatih anak memegang peralatan makannya dan makan sendiri. Atau saat anak ingin naik tangga sendiri, orangtua maupun pengasuh sebenarnya bisa memberi kesempatan padanya untuk melakukan hal itu. Selain itu, kewajiban kita semua (orang tua, pengasuh, guru) adalah dengan memberikan pendidikan kepada anak pendidkan emosional, pendidikan fisik dan pendidikan spiritual.
Pendidikan emosional misalnya dengan menanamkan nilai-nilai bahwa kesalahan adalah cara terbaik untuk kita belajar. Misalnya, kita belajar naik sepeda, kemudian jatuh dan naik lagi, jatuh dan naik lagi. Hal tersebut membuat kita bisa naik sepeda. Yang berdosa adalah melakukan kesalahan dan tidak belajar darinya.
Pendidikan fisik misalnya adalah dengan latihan berolahraga, belajar membaca maupun menulis, dan sebagainya yang melibatkan fisik. Lakukanlah dengan keberanian dan kemandirian. Hidup dalam proses fisik ketakutan adalah tidak sehat secara mental, emosional dan fisik.
Pendidikan Spiritual adalah untuk bisa mensyukuri. Segala pembelajaran dari hidup dan kehidupan kita dan belajar dari kesalahan. (MF. Fauzie, 2006) Upaya berikut dapat dilakukan orang tua untuk membiasakan anak agar tidak cenderung menggantungkan diri pada seseorang, serta mampu mengambil keputusan.
1. Beri kesempatan memilih. Sebagai seorang anak kita tentunya sering berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang sudah ditentukan oleh orang lain. Begitu juga dengan anak. Berilah ia kesempatan untuk memilih. Bila ia terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan sendiri bagi dirinya.
2. Berikan Pujian. Hal tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap usaha anak. Ia akan motivasi anak untuk berkembang dengan baik dan akan merasa percaya diri tentunya. Bukan sebaliknya.
3. Jangan cerewet! banyak bertanya terkesan cerewet dihadapan anak-anak. Meskipun maksud pertanyaan adalah untuk menunjukkan perhatian pada si anak, tetapi dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu banyak mau tahu. Karena itu hindari kesan cerewet.
4. “Don’t say impossible” (Jangan katakan mustahil atau tidak mungkin). Tak jarang orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan “Tidak mungkin” atau “mustahil” terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Kata-kata itu bisa mematahkan semangat bukan saja anak-anak tetapi juga orang dewasa.. Apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorongan untuk terus melakukanya adalah yang terpenting. Jangan sekali-kali membuatnya kehilangan motivasi atau harapan yang ingin dicapainya.
Pembaca yang budiman, seberapa pun sulitnya, kemandirian tetap bisa dilatih. Dengan pendidikan dan latihan mandiri, anak akan lebih percaya diri, bertanggung jawab, dan cerdas seperti harapan kita semua. Semoga melalui generasi yang mandiri inilah bangsa kita bisa keluar dari keterpurukan di masa akan datang. Bukan sebaliknya.
Artikel ini di terbitkan di Harian Pontianakpost Edisi Sabtu, 17 Januari 2007