Aku Bangga Menjadi Guru
Uncategorized 1 Comment »Pembaca yang budiman, senang sekali bisa menyelesaikanartikel yang berjudul “Aku Bangga Menjadi Guru” ini.Setiap kali penulis berbicara tentang pendidikanpenulis merasakan semangat yang luar biasa. Apakahanda juga merasakan hal yang sama? Itu karenapendidikan adalah bagian dari diri kita semua. Penulis sendiri bekerja di bidang pendidikan danmemulainya dengan menjadi menjadi mahasiswa keguruandan ilmu pendidikan program studi bahasa Inggris dikota Pontiana ini. Mulai melangkahkan kaki pada tahun2002 di dunia kampus. Tapi penulis sendiri sudahterjun kedua pendidikan dengan menjadi instukturBahasa Inggris baik di sekolah maupun di kursus bahasaInggris. Meski menjadi guru bukanlah cita-cita yangdiidam-idamkan seperti menjadi wartawan dan psikolog.Tapi mengharungi petualangan ini membuat penulistertambat dan tidak pernah untuk berpikir keluar daribidang yang satu ini. Pembaca yang budiman, manusia memang tidak pernahpuas. Begitu juga dengan penilaiannya dengan duniapendidikan. Meskipun banyak pelajar, guru maupun dosenyang berprestasi luar biasa baik tingkat nasionalmaupun internasional, namun dunia pendidikan diIndonesi masih terus mendapat sorotan tajam daribanyak pihak. Tapi penulis juga sependapat jikadikatakan demikian. Coba kita bandingkan denganperkembangan pendidikan di Indonesia dengannegara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapuramisalnya. Tentu masih belum memuaskan bahkanjauh dari harapan. Merosotan dan jauh ketinggalan.Itulah kesan yang bisa kita lihat dan kita rasakan. Sebagai seorang mahasiswa yang masih menimba ilmu danpengalaman baik di kampus maupun di masyarakat,penulis sadar bahwa ini merupakan tantangan bagipenulis dan bagi kita insan pendidikan untuk mengkajifaktor penyebab merosotnya dunia pendidikan kita.Khusus untuk guru, untuk terus melakukan perubahanmenjadi guru yang professional tentunya. Penulis yakinprofesionalisme dapat dicapai dengan proses yang baik.Profesionalisasi harus dipandang sebagai proses yangterus menerus. Lalu benarkah guru menjadi faktor penyebab kemerosotanpendidikan? Banyak pakar menyatakan bahwa faktor penyebabkemerosotan pendidikan adalah guru. Berikut pendapatmereka: Nasanius (1998) mengungkapkan bahwakemerosotan pendidikan bukan diakibatkan olehkurikulum tetapi oleh kurangnya kemampuanprofesionalisme guru dan keengganan belajar siswa. Baskoro Poedjinoegroho E (2006) menyatakan bahwahampir separuh dari lebih kurang 2,6 juta guru diIndonesia tidak layak mengajar. Yang tidak layakmengajar atau menjadi guru berjumlah 912.505, terdiridari 605.217 guru SD, 167.643 guru SMP, 75.684 guruSMA, dan 63.961 guru SMK. Kualifikasi dankompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar disekolah. (Kompas, edisi : Kamis, 05 Januari 2006). Prof. DR. Fuad Hasan dalam satu dialog interktif TVRI bahwa hanya 30 % guru-guru masa kini yang layakmengajar. Namun, menurut penulis secara garis besar sangat tidakwajar penyebab rendahnya mutu pendidikan hanyaditimpahkan kepada guru. Ibarat mata rantai satudengan yang lainnya. Masih banyak indikator yanglainnya yang menjadi penyebab. Menurut sudut pandangseorang guru, (Radiyanto Guru SMKN 3 Yogyakarta)misalnya. Beliau menyatakan bahwa factor kurikum yangmenjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di Negarakita. “Kurikulumnya muluk-muluk dan setelahsosialisasi ke sekolah-sekolah akhirnya kandas karenasangat minim faktor pendukungnya (biaya, alat, buku,dll). Untuk itu perlu spesialisasi yang mantap padajurusan disekolah-sekolah (smk) sesuai kemampuansekolah, kebutuhan lapangan” Menurut penulis factor kurikulum merupakan factor yangsangat menentukan mutu pendidikan. Beban kurikulumsangat menyiksa anak. Tidakkah kita kasihan melihatanak harus belajar setiap hari sementara di satu sisimereka tidak menikmati sama sekali pelajaran yangsedang dihadapinya. Bahkan dia tidak tertarik samasekali karena apa yang sedang dipelajarinya tidaksesuai dangan minat dan bakatnya. Materi yangdiberikan masih jauh dari realitas social yang ada.Mereka tidak diberikan kesempatan untuk benar-benarmemahami apa yang mereka pelajari karena tuntutankurikulum dan system pendidikan yang ada. Kembali lagi ke masalah guru. Lalu apakah yangmenyebabkan rendahnya profesionalisme guru? Akadum (1999) menyatakan dunia guru masihterselingkung dua masalah yang memiliki mutualkorelasi yang pemecahannya memerlukan kearifan dankebijaksanaan beberapa pihak terutama pengambilkebijakan; profesi keguruan kurang menjaminkesejahteraan karena rendah gajinya. Rendahnya gajiberimplikasi pada kinerjanya; percaya atau tidak jikagaji guru rendah jelaslah untuk memenuhi kebutuhanhidupnya guru akan mencari pekerjaan tambahan untukmencukupi kebutuhannya. Menjadi tukang ojek, misalnya.Sehingga program apapun yang akan diterapkanpemerintah tidak akan berjalan dengan maksimal. Di Amerika Serikat penghargaan terhadap jasa gurusangat tinggi. Hal ini sudah lama berlaku sehinggatidak heran kalau pendidikan di Amerika Serikatmenjadi pola anutan negara-negara ketiga. Di Indonesiatelah mengalami hal ini tetapi ketika jaman kolonialBelanda. Setelah memasuki jaman orde baru semuaberubah sehingga kini dampaknya terasa, profesi gurumenduduki urutan terbawah dari urutan profesi lainnyaseperti dokter, jaksa. Selain itu, Dra. Ani M. Hasan, M.Pd dalam artikelnyayang berjudul “Pengembangan Profesionalisme Guru diAbad Pengetahuan” menyatakan bahwa faktor penyebabrendahnya profesionalisme guru adalah masih banyakguru yang tidak menekuni profesinya secara utuh.Menurut beliau hal ini disebabkan oleh banyak guruyang bekerja di luar jam kerjanya untuk memenuhikebutuhan hidup sehari-hari sehingga waktu untukmembaca dan menulis untuk meningkatkan diri tidak ada.Selain itu juga disebabkan oleh kurangnya motivasiguru dalam meningkatkan kualitas diri karena gurutidak dituntut untuk meneliti sebagaimana yangdiberlakukan pada dosen di perguruan tinggi. Belum adanya tataran pengembangan keprofesionalan gurusecara keseluruhan juga menjadi masalah. Akadum (1999)menyatakan bahwa masih belum berfungsi PGRI sebagaiorganisasi profesi. Upaya yang dilakukan masihbersifat politis. Namun., kecenderungan PGRI bersifatpolitis memang tidak bisa disalahkan, terutama untukmenjadi “pressure group” untuk dapat meningkatkankesejahteraan anggotanya. Jadi kedepan sudahsepantasnya mulai mengupayakan profesionalisme paraanggotanya. Dengan melihat adanya faktor-faktor yang menyebabkanrendahnya profesionalisme guru. Bersama-samapemerintah dan lembaga LPTK sebagai penghasil guru,instansi yang membina guru (dalam hal ini Depdiknasatau yayasan swasta), PGRI dan masyarakat. pemerintahberupaya bersama-sama untuk mencari alternatif untukmeningkatkan profesi guru. Pemerintah telah berupaya untuk meningkatkanprofesionalisme guru diantaranya meningkatkankualifikasi dan persyaratan jenjang pendidikan yanglebih tinggi bagi tenaga pengajar mulai tingkatpersekolahan sampai perguruan tinggi. Programpenyetaaan Diploma II bagi guru-guru SD, Diploma IIIbagi guru-guru SLTP dan Strata I (sarjana) bagiguru-guru SLTA. Meskipun demikian penyetaraan initidak bermakna banyak, kalau guru tersebut kurangmemiliki daya untuk melakukan perubahan Prof. Suyanto, Ph.D (2006) dalam artikelnya yangberjudul “Guru Yang Profesional Dan Efektif”menyatakan bahwa Guru yang profesional dan efektifmerupakan kunci keberhasilan bagi prosesbelajar-mengajar di sekolah itu. Sebab, ketika paraguru telah memasuki ruang kelas dan menutuppintu-pintu kelas itu, maka kualitas pembelajaran akanlebih banyak ditentukan oleh guru. Hal ini sangatmasuk akal, karena ketika proses pembelajaranberlangsung, guru dapat melakukan apa saja di kelas. Untuk itu sangat penting bagi guru itu sendiri,sekolah atau yayasan, lembaga LPTK sebagai penghasilguru, pemerintah beserta lembaga-lembaga socialmasyarakat (LSM) untuk berupaya meningkatkanprofesionalisme guru dengan cara-cara yangkomprehensif dan berkesinambungan secara bersama-sama.Misalnya dengan meningkatkan kegiatan PKG (PusatKegiatan Guru, dan KKG (Kelompok Kerja Guru) yangmemungkinkan para guru untuk berbagi pengalaman dalammemecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi dalamkegiatan mengajarnya. Di bagian akhir artikel ini penulis mengajak kitasemua untuk tidak mengkambinghitamkan siapapunberkaitan dengan rendahnya mutu pendidikan di negeriini. yang lebih penting adalah kita harus terustumbuh, terus maju, terus belajar, terus berkembang,sebab bila berhenti, berarti mati. Tidak ada katamustahil di dunia ini jika segala daya dan upaya untukmelakukan perubahan. Khususnya sosok guru profesionalyang selama ini kita rindukan. *(Penulis adalah mahasiswa PRODI Pend. Bahasa InggrisFKIP Untan Pontianak. Aktif menjadi Pembelajar.
Artikel ini diterbitkan di Harian Equator Edisi 14 Agustus 2007

