Aku Bangga Menjadi Guru

Uncategorized 1 Comment »

1_663438938m
Oleh: Supriadi)*

Pembaca yang budiman, senang sekali bisa menyelesaikanartikel yang berjudul “Aku Bangga Menjadi Guru” ini.Setiap kali penulis berbicara tentang pendidikanpenulis merasakan semangat yang luar biasa. Apakahanda juga merasakan hal yang sama? Itu karenapendidikan adalah bagian dari diri kita semua. 

Penulis sendiri bekerja di bidang pendidikan danmemulainya dengan menjadi menjadi mahasiswa keguruandan ilmu pendidikan program studi bahasa Inggris dikota Pontiana ini. Mulai melangkahkan kaki pada tahun2002 di dunia kampus. Tapi penulis sendiri sudahterjun kedua pendidikan dengan menjadi instukturBahasa Inggris baik di sekolah maupun di kursus bahasaInggris. Meski menjadi guru bukanlah cita-cita yangdiidam-idamkan seperti menjadi wartawan dan psikolog.Tapi mengharungi petualangan ini membuat penulistertambat dan tidak pernah untuk berpikir keluar daribidang yang satu ini. 

Pembaca yang budiman, manusia memang tidak pernahpuas. Begitu juga dengan penilaiannya dengan duniapendidikan. Meskipun banyak pelajar, guru maupun dosenyang berprestasi luar biasa baik tingkat nasionalmaupun internasional, namun dunia pendidikan diIndonesi masih terus mendapat sorotan tajam daribanyak pihak. Tapi penulis juga sependapat jikadikatakan demikian. Coba kita bandingkan denganperkembangan pendidikan di Indonesia dengannegara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapuramisalnya. Tentu masih belum memuaskan bahkanjauh dari harapan. Merosotan dan jauh ketinggalan.Itulah kesan yang bisa kita lihat dan kita rasakan.

Sebagai seorang mahasiswa yang masih menimba ilmu danpengalaman baik di kampus maupun di masyarakat,penulis sadar bahwa ini merupakan tantangan bagipenulis dan bagi kita insan pendidikan untuk mengkajifaktor penyebab merosotnya dunia pendidikan kita.Khusus untuk guru, untuk terus melakukan perubahanmenjadi guru yang professional tentunya. Penulis yakinprofesionalisme dapat dicapai dengan proses yang baik.Profesionalisasi harus dipandang sebagai proses yangterus menerus. 

Lalu benarkah guru menjadi faktor penyebab kemerosotanpendidikan?

Banyak pakar menyatakan bahwa faktor penyebabkemerosotan pendidikan adalah guru. Berikut pendapatmereka: Nasanius (1998) mengungkapkan bahwakemerosotan pendidikan bukan diakibatkan olehkurikulum tetapi oleh kurangnya kemampuanprofesionalisme guru dan keengganan belajar siswa.  Baskoro Poedjinoegroho E (2006) menyatakan bahwahampir separuh dari lebih kurang 2,6 juta guru diIndonesia tidak layak mengajar. Yang tidak layakmengajar atau menjadi guru berjumlah 912.505, terdiridari 605.217 guru SD, 167.643 guru SMP, 75.684 guruSMA, dan 63.961 guru SMK. Kualifikasi dankompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar disekolah. (Kompas, edisi : Kamis, 05 Januari 2006).  Prof. DR. Fuad Hasan dalam satu dialog interktif TVRI bahwa hanya 30 % guru-guru masa kini yang layakmengajar. 

Namun, menurut penulis secara garis besar sangat tidakwajar penyebab rendahnya mutu pendidikan hanyaditimpahkan kepada guru. Ibarat mata rantai satudengan yang lainnya. Masih banyak indikator yanglainnya yang menjadi penyebab. Menurut sudut pandangseorang guru, (Radiyanto Guru SMKN 3 Yogyakarta)misalnya. Beliau menyatakan bahwa factor kurikum yangmenjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di Negarakita. “Kurikulumnya muluk-muluk dan setelahsosialisasi ke sekolah-sekolah akhirnya kandas karenasangat minim faktor pendukungnya (biaya, alat, buku,dll). Untuk itu perlu spesialisasi yang mantap padajurusan disekolah-sekolah (smk) sesuai kemampuansekolah, kebutuhan lapangan”

Menurut penulis factor kurikulum merupakan factor yangsangat menentukan mutu pendidikan. Beban  kurikulumsangat menyiksa anak. Tidakkah kita kasihan melihatanak harus belajar setiap hari sementara di satu sisimereka tidak menikmati sama sekali pelajaran yangsedang dihadapinya. Bahkan dia tidak tertarik samasekali karena apa yang sedang dipelajarinya tidaksesuai dangan minat dan bakatnya. Materi yangdiberikan masih jauh dari realitas social yang ada.Mereka tidak diberikan kesempatan untuk benar-benarmemahami apa yang mereka pelajari karena tuntutankurikulum dan system pendidikan yang ada. Kembali lagi ke masalah guru. Lalu apakah yangmenyebabkan rendahnya profesionalisme guru? 

Akadum (1999) menyatakan dunia guru masihterselingkung dua masalah yang memiliki mutualkorelasi yang pemecahannya memerlukan kearifan dankebijaksanaan beberapa pihak terutama pengambilkebijakan; profesi keguruan kurang menjaminkesejahteraan karena rendah gajinya. Rendahnya gajiberimplikasi pada kinerjanya; percaya atau tidak jikagaji guru rendah jelaslah untuk memenuhi kebutuhanhidupnya guru akan mencari pekerjaan tambahan untukmencukupi kebutuhannya. Menjadi tukang ojek, misalnya.Sehingga program apapun yang akan diterapkanpemerintah tidak akan berjalan dengan maksimal. 

Di Amerika Serikat penghargaan terhadap jasa gurusangat tinggi. Hal ini sudah lama berlaku sehinggatidak heran kalau pendidikan di Amerika Serikatmenjadi pola anutan negara-negara ketiga. Di Indonesiatelah mengalami hal ini tetapi ketika jaman kolonialBelanda. Setelah memasuki jaman orde baru semuaberubah sehingga kini dampaknya terasa, profesi gurumenduduki urutan terbawah dari urutan profesi lainnyaseperti dokter, jaksa.

Selain itu, Dra. Ani M. Hasan, M.Pd dalam artikelnyayang berjudul “Pengembangan Profesionalisme Guru diAbad Pengetahuan” menyatakan bahwa faktor penyebabrendahnya profesionalisme guru adalah masih banyakguru yang tidak menekuni profesinya secara utuh.Menurut beliau hal ini disebabkan oleh banyak guruyang bekerja di luar jam kerjanya untuk memenuhikebutuhan hidup sehari-hari sehingga waktu untukmembaca dan menulis untuk meningkatkan diri tidak ada.Selain itu juga disebabkan oleh  kurangnya motivasiguru dalam meningkatkan kualitas diri karena gurutidak dituntut untuk meneliti sebagaimana yangdiberlakukan pada dosen di perguruan tinggi. 

Belum adanya tataran pengembangan keprofesionalan gurusecara keseluruhan juga menjadi masalah. Akadum (1999)menyatakan bahwa masih belum berfungsi PGRI sebagaiorganisasi profesi. Upaya yang dilakukan masihbersifat politis. Namun., kecenderungan PGRI bersifatpolitis memang tidak bisa disalahkan, terutama untukmenjadi “pressure group” untuk dapat meningkatkankesejahteraan anggotanya. Jadi kedepan sudahsepantasnya mulai mengupayakan profesionalisme paraanggotanya. 

Dengan melihat adanya faktor-faktor yang menyebabkanrendahnya profesionalisme guru. Bersama-samapemerintah dan lembaga LPTK sebagai penghasil guru,instansi yang membina guru (dalam hal ini Depdiknasatau yayasan swasta), PGRI dan masyarakat. pemerintahberupaya bersama-sama untuk mencari alternatif untukmeningkatkan profesi guru. 

Pemerintah telah berupaya untuk meningkatkanprofesionalisme guru diantaranya meningkatkankualifikasi dan persyaratan jenjang pendidikan yanglebih tinggi bagi tenaga pengajar mulai tingkatpersekolahan sampai perguruan tinggi. Programpenyetaaan Diploma II bagi guru-guru SD, Diploma IIIbagi guru-guru SLTP dan Strata I (sarjana) bagiguru-guru SLTA. Meskipun demikian penyetaraan initidak bermakna banyak, kalau guru tersebut kurangmemiliki daya untuk melakukan perubahan

Prof. Suyanto, Ph.D (2006) dalam artikelnya yangberjudul “Guru Yang Profesional Dan Efektif”menyatakan bahwa Guru yang profesional dan efektifmerupakan kunci keberhasilan bagi prosesbelajar-mengajar di sekolah itu. Sebab, ketika paraguru telah memasuki ruang kelas dan menutuppintu-pintu kelas itu, maka kualitas pembelajaran akanlebih banyak ditentukan oleh guru. Hal ini sangatmasuk akal, karena ketika proses pembelajaranberlangsung, guru dapat melakukan apa saja di kelas. 

Untuk itu sangat penting bagi guru itu sendiri,sekolah atau yayasan, lembaga LPTK sebagai penghasilguru, pemerintah beserta lembaga-lembaga socialmasyarakat (LSM) untuk berupaya meningkatkanprofesionalisme guru dengan cara-cara yangkomprehensif dan berkesinambungan secara bersama-sama.Misalnya dengan meningkatkan kegiatan PKG (PusatKegiatan Guru, dan KKG (Kelompok Kerja Guru) yangmemungkinkan para guru untuk berbagi pengalaman dalammemecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi dalamkegiatan mengajarnya.

Di bagian akhir artikel ini penulis mengajak kitasemua untuk tidak mengkambinghitamkan siapapunberkaitan dengan rendahnya mutu pendidikan di negeriini. yang lebih penting adalah kita harus terustumbuh, terus maju, terus belajar, terus berkembang,sebab bila berhenti, berarti mati. Tidak ada katamustahil di dunia ini jika segala daya dan upaya untukmelakukan perubahan. Khususnya sosok guru profesionalyang selama ini kita rindukan.

*(Penulis adalah mahasiswa PRODI Pend. Bahasa InggrisFKIP Untan Pontianak. Aktif menjadi Pembelajar.

Artikel ini diterbitkan di Harian Equator Edisi 14 Agustus 2007

Anak Vs Organisasi

Uncategorized 1 Comment »

25658615158977m

Oleh: Supriadi)*


Pembinaan anak dan remaja merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pembinaan ini  merupakan tanggung jawab bersama orang tua atau keluarga, masyarakat, sekolah, pemerintah, serta anak dan remaja sendiri. Baik tidaknya pembinaan tersebut menentukan kelangsungan hidup serta pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan mental anak.

Untuk apakah pembinaan anak dan remaja? Dan bagaimana cara yang tepat? Siapa yang berperan dalam pembinaan anak? Berikut penulis uraikan sekilas dalam artikel penulis yang berjudul “Peranan Organisasi terhadap Perkembangan Anak Indonesia”

Para pembaca yang budiman, tujuan pembinaan anak dan remaja adalah membentuk manusia Indonesia berkualitas yaitu yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, tangguh, sehat, cerdas, patriotik, berdisiplin, kreatif, produktif, dan profesional. Orang tua mana sih yang tidak mau anaknya menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada orang tuanya? Orang tua mana yang tidak akan bangga jika anak mereka cerdas, kreatif, disiplin atau mempunyai jiwa dan watak kepemimpinan.

Para pembaca yang budiman, penulis yakin kita semua pernah mengikuti salah satu organisasi saat masih duduk di bangku sekolah. Bahkan ada di antara kita yang mengikuti berbagai organisasi, seperti aktif di OSIS, Pramuka, Paskibra, Pecinta Alam dan sebagainya dalam satu waktu. Lalu apakah organisasi turut berperan dalam pembinaan watak kita semua? Ya, pasti! Organisasi mempunyai peranan yang sangat besar dalam pembentukan dan pembinaan karakter atau sikap seseorang. Termasuk penulis sendiri.

Roger A. Hart menyatakan bahwa salah satu wadah untuk pengembangan karakter atau sikap anak tentang demokrasi adalah melalui organisasi. Demokrasi tercipta hanya melalui praktek dan pelibatan langsung. Ia tidak tumbuh secara tiba-tiba melalui kematangan yang sederhana pada masa dewasa, ia terbentuk dari masa kanak-kanak (Weinstein, C.S., & David, T.G., (ed.), 1987:217).
Sejak di SLTP dan SMA anak-anak yang mengenyam dunia pendidikan telah diperkenalkan dengan Organisasi Intra Sekolah, Organisasi Kepanduan (Pramuka), dan Palang Merah Remaja. Selanjutnya di perguruan tinggi, organisasi semakin beragam, baik itu organisasi intern kampus maupun ekstern kampus. Selain itu ada juga organisasi orang dewasa di luar lingkungan pendidikan., organisasi remaja mesjid misalnya.

Apapun tujuan sebuah organisasi tersebut yang penting adalah anak minimal memperoleh dasar-dasar berorganisasi dan aktif berperan dalam pembelajaran berdemokrasi. Anak-anak  terbiasa  mengemukakan pendapat dan memberikan suara serta ikut  mengambil keputusan terbaik bagi mereka. Selain itu anak juga akan terlatih menyusun rencana, melaksanakan program kegiatan dan mengevaluasinya di organisasi masing-masing. Tentunya seluruh pengalaman berorganisasi baik di sekolah, di perguruan tinggi maupun di masyarakat ini sangat bermanfaat terjun ke masyarakat kelak.

Namun sangat disayangkan bahwa sebagian organisasi baik di sekolah maupun di kampus serta di masyarakat tidak berjalan dengan baik. Seperti organisasi orang dewasa, organisasi yang mewadahi anak hanya ada kegiatan pada saat pemilihan dan pembubaran pengurus organisasi. Selebihnya kegiatan organisasi sedikit atau vacum, apabila terlihat ada kegiatan, itu hanya karena inisiatif ketua semata. Pengurus lain sibuk dengan kegiatan masing-masing seperti belajar sedangkan kewajiban mereka memajukan atau menggerakan organisasi terabaikan.

Mengapa terjadi demikian? Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis kenyataan ini, selain dipicu oleh kurang adanya dorongan dan motivasi – penghargaan sekolah, nilai dan atau materi – juga keterbatasan kemampuan pengurus dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengevaluasian program organisasi. Di samping itu minimnya kemampuan anak dalam menentukan isu juga menyebabkan kurang “bergairahnya” Sebuah organisasi. Mereka terlalu asyik dengan persoalan yang terkait dengan teknis-teknis organisasi, tetapi mereka lupa bahwa visi mereka untuk kemaslahatan minimal anggota organisasi itu sendiri.

Pembaca  yang budiman, apakah perbedaan organisasi anak dan remaja di Indonesia di bandingkan dengan organisasi yang ada di luar negeri sana? Seperti di Filipina, Australia, Inggris misalnya.

Menurut Hamid Patilima (Anggota Delegasi Major Group Anak – IPF untuk WSSD) dalam artikelnya yang berjudul “Berorganisasi: Menanam Bibit Bibit Demokrasi Pada Anak” anak-anak di organisasi  seperti Youth General Assembly mempunyai penguasaan anggotanya terhadap isu-isu telah dan sedang berkembang di sekitar mereka dengan sangat baik. Baik itu yang terkait dengan anak langsung maupun yang tidak langsung pada kehidupan anak. Mereka tidak hanya mengangkat isu-isu yang terkait dengan mereka secara langsung, seperti bebaskan biaya sekolah, turunkan harga buku, dan bebas biaya transportasi. Tetapi, mereka turut serta mendukung isu-isu yang diusung oleh kelompok Utama lain, terutama yang terkait dengan air, energi, kesehatan, pertanian dan keanekaragaman hayati – WEHAB (Water, Energy, Health, Agriculture, and Bio-diversity).

Gambaran seperti itu masih jarang terlihat pada organisasi di tanah air. Ada  beberapa kendala mendasar yang menghambat perkembangan organisasi anak. Kendala yang dimaksud adalah: perasaan memiliki, sumber daya manusia, pemilihan isu dan penguasahaan materi isu. Selain itu kurannya pengkaderan atau pelatihan manajemen organisasi yang didapat oleh para penggerak organisasi. Yang lebih parah lagi keadaan lapangan belum sepenuhnya menerima partisipasi anak melalui organisasinya untuk memperlancar pertumbuhan dan perkembangan kehidupan berorganisasi dan demokrasi, terutama dalam proses pengambilan kebijakan pemerintah.

Pembaca yang budiman, meskipun kemajuan dan peranan serta kemampuan anak dan remaja anggota organisasi di tanah air masih belum dapat menyamai teman-temannya di Youth General Assembly, atau teman-teman mereka di beberapa Negara seperti di sebutkan di atas, namun, partisipasi anak dalam pembangunan perlu diciptakan, karena kondisi tersebut akan melahirkan embrio-embrio demokrasi yang bertanggung jawab di masyarakat atau sekolah.
Penulis berharap semoga pembinaan anak dan remaja sebagai tunas bangsa, termasuk pembinaan untuk menanamkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pendidikan budi pekerti, peningkatan disiplin, peningkatan minat baca, dan semangat belajar, perlu ditingkatkan dengan berbagai upaya yang makin terpadu dapat terwujud seiring kusamnya nasib dunia pendidikan kita saat ini.

Semoga semua pihak seperti para orang tua, pihak sekolah (kepala sekolah) dan masyarakat maupun pemerintah lebih mendukung sepenuhnya kegiatan mereka dan lebih memperhatikan suara (organisasi) anak dalam pengambilan keputusan. Dan para aktivis organisasi, seperti aktivis mahasiswa dan aktivis-aktivis LSM lebih peduli lagi terhadap pembinaan organisasi anak-anak di sekolah dengan ikut meningkatkan keikutsertaan mereka dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian agar pembinaan watak (character building) anak berjalan seiring perkembangan kecerdasan intelektual mereka. Semoga!

Artikel ini di terbitkan di Harian Equator Pontianak Edisi: 13 Agustus 2007


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in