Indonesia Kapten Kesebelasan Dunia

Serba-Serbi 1 Comment »
KAPTEN kesebelasan dipilih bukan hanya karena kepemimpinan dan daya organisasinya, tapi juga afdhal kalau karena ia allrounds: jangankan di saat darurat menggantikan posisi di belakang,depan atau tepi, jadi kiper pun siap.
Olimpiade fisika, biologi, berbagai invensi riset-riset sains di kalangan pelajar, Indonesia langganan juara.Teater anak-anak, Indonesia juara. Juga silakan jenis seni apa pun, jika diperlombakan di tingkat dunia, kualitas Indonesian Idol haqqulyaqin berani tanding lawan American idol.
Bikinlah riset tentang peran patriot-patriot pakar-pakar Indonesia di berbagai perusahaan dunia yang tidak diacuhkan di negerinya sendiri. Tunggulah invensi teknologi garda depan buah karya putra bangsa kita di Jepang yang akan mengubah secara radikal konstelasi pasar dunia. Bidang-bidang apa saja, silakan sebut, yang bangsa Indonesia tidak potensial untuk unggul.
Kebudayaan, ilmu pengetahuan, teknologi, ijtihad makanan,metamanajem en,kreativit as hidup, survivalisme, ketangguhan mental, kenekatan, apa saja yang bangsa lain belum tentu memiliki kemampuan semacam itu. Jumlah orang pintar dan enak mengaji di Indonesia bisa seratus kali lipat dibanding di Arab Saudi. Suruh pemuda pemudi di kampung, di kafe,restoran, dan warung, suruh nyanyi jazz, blues, country, cengkok negro terbaru, kasidah Arab klasik, modern atau apa saja.
Minta pula satu penyanyi Amerika menyanyikan “Es Lilin” atau “Yen Ing Tawang Ono Lintang”. Utusan masyarakat Mesir mengantarkan dana untuk Indonesia yang krisis. Begitu masuk Jakarta dia batalkan niat itu karena bengong: “Lhomana krisisnya?”Jutaan orang lalu lalang belanja barang mewah di sana-sini,makan sedap di setiap tempat.
Dibanding Kelapa Gading saja, Kairo kalah putaran uangnya dan fasilitas kemewahannya. Ini negara mengalami krisis tak habis-habis, tapi di sana sini orang hidup mewah, makan banyak, beli ini itu tak pernah sepi. Ini negara selalu dilaporkan segera collapse, tapi tertawa dan senyum dan dadaag dadaag di sanasini, bahkan koruptor melambaikan tangan ke kamera televisi dengan senyum cerah.
Gordon Brown menonton pertunjukan satu kelompok musik Indonesia di London, kemudian di akhir acara berpidato, menganalisis, dan menguraikan: “Musik yang barusan kita nikmati,ragam bunyinya, pola aransemennya, sikap budaya dan kemanusiaan yang melatarbelakangi proses penciptaannya, saya temukan bisa menjadi contoh formula tata dunia yang akan kita bangun bersama.
Ialah semua unsur budaya, semua lingkar bangsa- bangsa,semua agama,keyakinan dan ideologi, bersama-sama mengupayakan titik temu, peluang kerja sama, dengan semangat perdamaian dan prinsip demokrasi, membangun sebuah peradaban baru milenium semesta yang indah”.Kemudian dia menjadi Perdana Menteri Inggris. Aspirasi yang sama dipidatokan oleh Wali Kota Teramo sesudah menyaksikan pertunjukan sebuah grup musik Indonesia di kotanya.
Mengkhususkan diri pada salah satu nomor musik agak panjang yang diangkat dari lagu Kalimahpenyanyi Majdah Rumi, seorang Kristiani Lebanon, yang diaransemen menggunakan gamelan dan dengan watak serta cengkok Indonesia. “Ini lagu Timur Tengah, disuarakan dengan logam-logam Indonesia yang masyarakat Italia masih sangat asing kepadanya, tetapi di dalam nomor itu kita sangat bisa menemukan Italia, merasakan dunia Barat dan Timur sekaligus dalam satu harmoni,menikmati hampir semua aransemen dari berbagai aliran musik.
Dunia dan seluruh umat manusia dipersatukan dalam keindahan, cinta dan semangat untuk menyatu. Bahkan, ketika gamelan membunyikan notasi Sole Mio, telinga Teramo saya merasa aneh tapi hati Itali saya menikmati keindahan yang tak kalah dibanding yang biasa kita rasakan.” Gubernur Ismailia di akhir pertunjukan musik Indonesia berpidato dengan ungkapan sufi: “Inilah Andalusia yang hilang.Saya menangis dan andaikan boleh menawar sejarah,saya mau tidak pernah ada Perang Salib atau Perang Sabil.
Saudaraku semua dari Indonesia, kalian telah menjadi bagian dari hati kami bangsa Mesir, kalian sudah menjadi penduduk Kota Ismailia dan saya akan masuk neraka kalau ada di antara saudara-saudaraku yang tidak bergembira hatinya selama berada di Ismailia.” Kapan-kapan, kalau ada luang waktu, saya kisahkan tentang “Kapten Indonesia” memprasastikan partitur dan demung di Conservatorio di Musica San Pietro A Majella, Napoli.
Saron Gundul Pacul di Gedung Dunia Kemlu Jerman, Berlin. Di Goumhuriyya, Kairo,tempat bersinarnya Kaukab as-Syarq, si Bintang Timur. Di Vatican, I’ll Papa I’ll Papa… Cobalah tengok masa depan dunia,di mana letak China, India, dan Indonesia. Beberapa tahun lalu,Newsweek edisi Asia mengumumkan 5 Asian Trend Makers, lima figur penggiring kecenderungan, memengaruhkan suatu gejala atau formula perilaku atau kreativitas budaya dalam skala massal, salah satunya adalah orang Indonesia.
Tapi bangsa Indonesia tergolong manusia jenis kedua: orang yang hebat tapi tak tahu bahwa dia hebat. Jenis pertama orang hebat dan tahu dia hebat. Jenis ketiga orang tak hebat tapi tahu kalau dia tak hebat.Keempat orang tak hebat dan tak tahu kalau dia tak hebat. Jenis keempat ini suatu segmen dan kelas peradaban yang semakin hari kehilangan parameter hampir di segala bidang, dan berkuasa.
Dalam pusaran itulah Indonesia menjadi semakin tidak mengerti dirinya sendiri.Ketidakheba tan saja tidak dimengerti, apalagi kehebatan. Maka si Kapten Dunia tidak pernah mengerti dirinya. Ia sangat kagum dan takut kepada Rambo, karena tidak ingat bahwa Rambo itu khayalan yang diciptakan oleh orang yang kalah. Dan ternyata, khayalan orang kalah saja cukup untuk membuat kita takut kepada orang kalah itu. *) Budayawan
EMHA AINUN NADJIB

Mahasiswa Oh Mahasiswa

Pendidikan No Comments »

MASUK ke universitas atau perguruan tinggi negeri masih merupakan nilai gengsi tersendiri bagi sebagian masyararakat Indonesia. Sebuah harapan besar lahir ketika belajar di universitas untuk menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan siap mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.

Begitulah pandangan sebagian masyarakat Indonesia pada umumnya. Benar, ketika penulis masuk kuliah dan mendapat gelar mahasiswa, itu merupakan kebanggaan sendiri bagi penulis. Sebab masih banyak teman-teman yang kurang beruntung karena gagal lulus tes SPMB maupun yang kurang beruntung karena tidak ada biaya untuk kuliah.

Namun, setelah menyandang status mahasiswa, penulis sadar tanggungjawab yang dipikul sangatlah besar. Tanggungjawab untuk menjadi seorang manusia seutuhnya. Tanggungjawab untuk menjadi manusia yang benar-benar mampu menunjukkan kematangan dan kedewasaan baik perkataan maupun perbuatan. Tanggungjawab untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain.

Setelah mengalami proses yang cukup panjang, penulis yakin semua mahasiswa juga sepakat jika mahasiswa  bisa merasakan hidup yang lebih bermakna dan penuh berwarna. Mahasiswa menjadi harapan untuk melakukan fungsi kontrol. Yaitu kontrol terhadap segala kebijakan pemegang kekuasaan. Kontrol terhadap praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang menjadi tradisi.

Mahasiswa menjadi harapan untuk memperjuangkan rakyat tidak mampu yang seringkali mendapat perlakuan tidak adil dari oknum penguasa. Mahasiswa mempunyai peranan besar memperjuangkan nasib mereka agar mereka tidak terus digusur dan ditindas. Namun itu tampaknya akan terus terjadi jika tikus-tikus kantor dan para “bandit” lebih memihak kaum berduit dan terus merampas hak-hak rakyat kecil.

Selain itu mahasiswa juga berkewajiban mengabdikan diri serta mencerdaskan masyarakat melalui aksi pengabdian kepada masyarakat, seminar/workshop, penelitian ilmiah, kuliah kerja nyata dan aksi-aksi sosial lainnya. Sebagai seorang yang terpelajar maka mahasiswa harus memberikan kontribusi yang baik kepada masyarakat.

Namun, tidak jarang juga aksi-aksi mahasiswa menimbulkan kesan negatif sehingga mendapat kritikan dari masyarakat. Masyarakat juga seakan gerah ketika melihat tingkah laku mahasiswa yang terkadang nyeleneh, dan terkesan buruk, minum minuman keras, apalagi terkadang terlibat tawuran, narkotik dan tindakan kriminal lainnya.

Terlepas dari tindakan dan pandangan plus minusnya tersebut, jelas terlihat bahwa mahasiswa mempunyai suatu potensi dan keinginan yang sangat besar dan terkadang tidak mampu mengendalikannya. Mahasiswa juga manusia yang masih muda dan masih dalam proses pencarian jati diri yang sebenarnya dan sedang dalam proses pendewasaan.

Pembaca yang budiman, menghadapi realitas yang ada, menjadi mahasiswa juga di hadapkan pada fenomena yaitu memasuki dunia kerja. Namun yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah sudah siapkah mahasiswa menghadapi dunia kerja? Apakah kurikulum yang diterapkan kurikulum dan apakah proses perkuliahan sudah memberikan bekal yang cukup untuk menghadapi dunia kerja?

Satu kenyataan yang ironis adalah pengangguran terbesar nomor dua adalah dari kalangan sarjana keluaran dari perguruan tinggi. Ini berarti bahwa kuliah belum bisa menjamin seseorang untuk bisa bekerja sesuai dengan disiplin ilmunya. Oleh karena itu, mulai sekarang kita harus berpikir cerdik bagaimana untuk terus belajar memperdalam disiplin ilmu masing-masing dan terus berusaha berusaha membina dan mematangkan potensi emosional, spiritual, serta intelektual. Sehingga pada akhirnya kita bisa membangun paradigma berpikir dengan berusaha menciptakan sikap entrepreneurship pada diri kita.

Ketika kita kuliah, kita haruslah mengimbangi diri dengan aktif untuk mencari pengalaman-pengalaman yang yang nantinya sangat berguna bagi diri sendiri. Sebab jika hanya mengharapkan hasil di ruang kuliah maka kita akan ketinggalan. Bagaimana tidak, mahasiswa seringkali dijadikan objek di dalam kelas. Mahasiswa masih saja ditekankan untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan apa yang dikatakan dosen, sehingga yang dihasilkan adalah kaset rekaman. Mahasiswa yang terbaik adalan mahasiswa yang mampu melakukan proses recording yang sempurna.

Yang menjadi pertanyaan lagi adalah sudahkah kita sebagai mahasiswa melihat kondisi real masyarakat? Jangan sampai kita terjebak pada pola pikir dan perbuatan yang hanya berdasarkan teoritis. Yang lebih penting adalah bagaimana memadukannya dengan kondisi sosial yang ada. Sehingga apabila mahasiswa terjun kemasyarakat nantinya akan mampu menunjukkan idealisme dan sumbangsihnya yang jelas kepada masyarakat. Meskipun pada kenyataannya pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya.

Organisasi merupankan salah satu wadah yang sangat tepat untuk menambah pengalaman. Terlepas dari berbagai tujuan mengikuti sebuah organisasi di kampus, organisasi akan mampu memberikan proses pembelajaran dan pengalaman bagi mahasiswa yang mampu belajar dan berproses dengan baik.

Oleh karena itu penulis berharap kepada semua pihak, pemerintah, masyarakat dan tentunya pihak perguruan tinggi seperti rektor, dekan dan para dosen untuk melakukan pembinaan sebaiknya agar mahasiswa menjadi golongan cerdas dan kreatif sesuai dengan cita-cita tridarma perguruan tinggi, dan tercapainya sasaran tujuan pendidikan nasional. Yakni pendidikan sebagai usaha sadar untuk  mengembangkan kepribadian dan kemampuan ( kualitas ), serta kedewasaan yang dilakukan di dalam dan di luar kampus. Bukan sebaliknya.

Kepada calon-caon mahasiswa yang baru berhasil di terima di Perguruan Tinggi penulis ucapkan selamat. Maka bersiaplah untuk memasuki dunia baru dan jalani semuanya agar lebih berarti.

Rekonstruksi Gerakan Mahasiswa

Uncategorized No Comments »

Oleh:Supriadi

Laksana semut di seberang lautan jelas kelihatan dan gajah di pelupuk mata tidak kelihatan. Begitulah bunyi pribahasa yang sering kita dengar. Mungkin kita kurang normal jika kita tidak mampu melihat gajah tersebut secara jelas. Entah kalau kita sudah terjebak penyakit "rabun" reformasi . Masih mending kita dihinggapi oleh "rabun" cantik, sehingga tidak mudah tergoda oleh yang "cantik-cantik". Tetapi tatkala "rabun" reformasi

menghinggapi diri kita, apa boleh dikata moralitas kita perlu dipertanyakan, kemanusiaan dan harga diri kita perlu dikonstruksi kembali.

Ada beberapa aspek strategis yang luput dari perhatian dan ingatan kita selama mengarungi kehidupan kampus ini. Aspek-aspek tersebut adalah aspek intelektual yang perlu di implementasikan melalui reformasi Intelektual. Berkenaan dengan reformasi ini, masih belum banyak kalangan yang ”concern” dengan agenda reformasi intelektual. Padahal disadari betul bahwa tidak mungkin bangsa ini akan bangkit kembali jika tidak ditangani oleh mereka yang mempunyai kualitas intelektual tinggi. Bangsa kita masa mendatang membutuhkan kader-kader yang profesional. Yang diharapkan lahir dari dunia perguruan tinggi, yaitu kampus.

Berat memang bagi setiap institusi perguruan tinggi untuk membenahi ”basic” intelektual para mahasiswa dan mahasiswa itu sendiri. Salah satunya adalah membuka peluang selebar-lebarnya terhadap mahasiswa untuk selalu mempertajam daya pikir, sikap kritis dengan senantiasa berpegang terhadap nilai-nilai moralitas. Ini sangat urgent dilakukan untuk menghindari berbagai kepentingan yang selalu mencari peluang untuk memanfaatkan gerakan mahasiswa.

Secara konseptual, reformasi intelektual dapat dimulai dengan beberapa strategi dengan secepatnya melakukan langkah-langkah sebagai berikut : Pertama, pihak perguruan tinggi sudah semestinya memposisikan lembaga-lembaga kemahasiswaan UKM dan Himpunan sebagai ”partner group” dalam membangun progresivitas institusi kampus. Dalam hal ini pihak rektorat, pembantu rektor, dekan, pembantu dekan, dan dosen harus mampu menempatkan kedudukan mahasiswa pada posisi yang seharusnya, yakni sebagai peran pendidik baik secara langsung atau pun tidak merupakan kewajibannya untuk selalu mengarahkan mahasiswa sebagai peserta didik dalam rel berpikir kritis.

Dari kontribusi pemikiran para dosen diharapkan mahasiswa tercetak sebagai golongan cerdik pandai sesuai dengan cita-cita tridarma perguruan tinggi, dan tercapainya sasaran tujuan pendidikan nasional. Yakni pendidikan sebagai usaha sadar untuk  mengembangkan kepribadian dan kemampuan ( kualitas ), serta kedewasaan yang dilakukan di dalam dan di luar kampus.

Kedua, pihak rektor, pimpinan fakultas harus memberikan kebebasan sekaligus peluang kepada mahasiswa untuk selalu berkreativitas dan berdialektika.  Ketiga, hindarkan struktur kelembagaan perguruan tinggi yang cenderung menghambat daya kritis mahasiswa. Tahun 1983 Nugroho Notosusanto mengeluarkan ide institusionalisasi dan profesionalisasi melalui transpolitisasi kehidupan kampus. Dengan kebijakan tersebut berarti mahasiswa tidak menemukan kebebasan dalam mengekspresi potensi intelektualnya lantaran terkooptasi oleh aturan-aturan perguruan tinggi. 

Berbeda dengan tahun 66 sampai era Dewan Mahasiswa ( DEMA ) dimana mahasiswa memiliki kebebasan penuh dalam mempresentasikan peran sosialnya atau yang kemudian dikenal dengan ’Student Govertment”. Dengan konsep Dema ini, kampus menemukan faktor dominannya untuk mensikapi berbagai dinamika yang terjadi menyangkut kepentingan rakyat dalam negara. Mahasiswa kembali menemukan jati dirinya, sedangkan selama ini eksistensi mahasiswa kerapkali dipertanyakan, karena mahasiswa dianggap luntur sikap idealismenya.

Keempat, pihak perguruan tinggi harus memperhatikan fasilitas-fasilitas penunjang bagi terwujudnya kader intelektual, seperti halnya perpustakaan kampus yang refresentatif. Ini dapat ditempuh dengan selalu melengkapi rak-rak perpustakaan kampus dengan buku-buku yang lengkap, referensi terbaru, atau buku-buku langka yang membantu mendukung ke arah meningkatnya ilmu pengetahuan dan wawasan berpikir mahasiswa. Sebab matinya perpustakaan menunjukan matinya intelektualitas mahasiswa. 

Kelima, mahasiswa hendaknya menghidupkan kembali kelompok-kelompok diskusi, pengkajian-pengkajian, dan penelitian-penelitian ilmiah. Disamping itu transfer informasi dari berbagai kalangan perguruan tinggi melalui media-media seperti pers mahasiswa, internet, dan lain-lain sangat memiliki akses besar untuk menambah daya kritis mahasiswa.

Bentuk strategi tersebut di atas adalah sebagai upaya untuk menuingkatkan kualitas mahasiswa, sehingga tidak ada anggapan sinis bahwa mahasiswa Indonesia, sebagian atau mayoritas alumni perguruan tinggi menjadi "sarjana Traumatik " , karena keilmuan dan keterampilan yang dimilikinya dirasakan tidak mumpuni tatkala dihadapkan pada persoalan-persoalan riil yang terjadi di masyarakat.

Tetapi perlu di ingat bahwa reformasi intelektual dimaksud bukan untuk memarjinalisasi sikap kritis, daya inovatif dan kreativitas mahasiswa. Justru dengan intelektualitas yang memadai yang ditunjang dengan pemahaman-pemahaman yang proporsional akan lebih membuka mata hati terhadap masyarakat. Di sisi lain reformasi intelektual tersebut tidak menafikan masalah sosio-politik, artinya partisipasi aktif mahasiswa dalam kehidupan sosial politik bisa saja dilakukan asalkan pada konteks dan kedudukannya sebagai mahasiswa dimana setiap langkah gerakannya adalah dalam rangka memperjuangkan nilai-nilai moralitas bangsa dan negara, sebagai ”social control”.

Jadi penulis beranggapan bahwa demonstrasi adalah salah satu dari cermin intelektualitas mahasiswa, jika demonstrasi itu berada pada posisi demi membela kepentingan bersama. Maka dari itu penulis tidak sepakat jika ada anggapan bahwa silahkan boleh bicara politik dari rel akademis bahkan secara ilmiah tetapi jangan sampai demo-demoan. Pendapat ini jelas merupakan kunci mati mahasiswa dalam berpartisifasi aktif dalam kehidupan sosial politik. Jika pendapat di atas menjadi sebuah legalitas dan berbentuk kebijakan-kebijakan seperti halnya pernah dilakukan Mendikbud Nugroho Notosusanto tentang Transpolitisasi kampus, maka akan menciptakan kader-kader bangsa yang kurang antisifatif terhadap lingkungannya, kurang mempunyai kepedulian sosial dan rasa keprihatinan akan yang mendalam terhadap kondisi bangsanya.

Mahasiswa melalui perwakilannya yaitu Badan eksekutif Mahasiswa harus bersama-sama membangun dan mempresentasikan peran sosialnya atau yang kemudian dikenal dengan Student Govertment. Dengan konsep ini, kampus menemukan faktor dominannya untuk mensikapi berbagai dinamika yang terjadi menyangkut kepentingan mahasiswa itu sendiri bahkan untuk kepentingan masayarakat, bangsa dan negara. Mahasiswa harus kembali menemukan jati dirinya, eksistensi mahasiswa harus diperjuangkan, karena mahasiswa adalah insan berkepribadian, yang selalu menjunjung tinggi sikap idealismenya.

Merdeka!

Uncategorized No Comments »

Refleksi Hari Proklamasi

Merdeka!

Oleh: Supriadi

 

"Rintihan dan tangis mereka merupakan cerminan
dari penindasan dan “penjajahan” yang dilakukan para penguasa saat ini"

 

Bulan Agustus
adalah bulan yang paling bersejarah bagi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak setelah
melalui perjuangan panjang yang penuh pengorbanan, bangsa Indonesia berhasil mengumandangkan pekik kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Dengan
mengatasnamakan bangsa Indonesia,
Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan.

 

Pembaca yang budiman,
kita akan memperingati ulang tahun kemerdekaan
Indonesiayang ke-62 pada hari
Jumat, 17 Agustus 2007 ini. Sudah sepantasnya kita melakukan refleksi atas
perjuangan bangsa Indonesia sampai detik ini.

 

Pada artikel
kali ini penulis akan menguraikan sedikit tentang semangat sesosok nasionalis
yang pantas kita banggakan. Siapa lagi kalau bukan Ir. Dr. [HC]. H. Soekarno. Siapa sih yang
tidak mengenal tokoh yang dikenal dengan bapak revolusi ini?. Beliau berhasil
“menyihir” tidak hanya dirinya sendiri tetapi juga seluruh rakyat
Indonesia.

 

Bakat kepemimpinan
yang sudah dimilikinya dari sejak kecil adalah berkat semangat belajarnya yang
terus membara. Hobinya membaca menengelamkannya menjadi manusia pembelajar. Buku
demi buku habis dibacanya. Buku-buku politik, revolusi dan literature dan lainnya.
Selain itu, ternyata Soekarno juga sangat tertarik dengan dunia fantasi yaitu
dunia perwayangan. Hal tersebut membuat beliau memfavoritkan seorang tokok
perwayangan yang terkenal keras, berani, dan pemberontak terhadap feodalisme.
Nada bicara lantang bahkan terkadang tidak sopan meskipun berbicara dihadapan
para dewa. Bima, inilah tokoh yang difavoritkan beliau sehingga ia lantas
mempraktekkan sosok ”Bima” di atas mimbar atau panggung. Kritikan tajam beliau
jelas membuat panas kuping penjajah Belanda.

 

Kebiasaan
membaca buku dan ketertarikannya di dunia perwayangan inilah yang membuat
Soekarno mempunyai daya imajinasi yang sangat tinggi dan mampu mengarungi
kehidupannya dengan semangat dan jiwa kepemimpinan yang sangat tinggi pula.
Setiap ia tampil berpidato, saat itulah semangatnya borkobar dan menyala-nyala.
Tak heran jika setiap orang terhanyut terbawa arus suasana meskipun hanya
didepan radio yang tua dan lusuh. Ungkapan terakhir beliau sanggup
mengggetarkan sekaligus mengajak massa melakukan apa yang diserukannya. “Amerika kita setrika”, Inggris kita linggis”,
Jepang kita kepang”, atau “Gayang Malaysia” dan masih banyak lagi
yang lainnya.

 

Penulis sebagai
generasi muda masa sekarang ini tentu hanya membaca dan menyaksikan sekilas
sosok Soekarno. Pernahkan kita semua
membayangkan hidup di jaman perang seperti yang di alami generasi patriot kita
sebelumnya? Apkah kita akan ikut berjuang bersama yang lain? Belum tentu. Mungkin
kita belum cukup siap untuk mempertaruhkan jiwa dan raga demi bangsa ini.
Memang dunia sudah berubah. Pergeseran budaya dan tatanan kehidupan membuat
jiwa nasionalis dan patriotisme semankin pudar. Budaya hedonis (menganggap
kesenangan dunia adalah tujuan hidup semata) turus merongrong generasi saat
ini. Budaya konsumerisme juga tidak bisa dibendung akibat pasar global yang
semakin menggila. Kesadaran sosial semakin memperihatinkan. Jujurlah pada diri
sendiri betapa kita masih berat hanya untuk memberikan sekeping uang logam bagi
anak-anak di perempatan jalan.

 

Yang menjadi
pertanyaan sekarang apakah kita sudah benar-benar merdeka? Coba lihat disana atau di sekeliling kita betapa saudara-saudara kita tidak dapat hidup layak di
bumi yang katanya hak setiap warga Negara. Mereka harus berjuang menghadapai
penggusuran. Rintihan dan tangis mereka cerminan dari penindasan dan penjajahan
yang dilakukan para penguasa saat ini.

 G

Pembaca yang
budiman, selagi dunia belum berakhir selama itulah harapan masih terbuka lebar
untuk menuju ke arah yang lebih baik. Ke arah perubahan dimana semua rakyat
merasakan benar-benar merdeka untuk hidup tenang, makmur dan damai. Dimana
semua rakyat Indonesia dengan
bangga berteriak “aku bangga menjadi bangsa Indonesia”

Cerita Cinta

Uncategorized No Comments »

Love
Alkisah, di suatu pulau kecil tinggallah berbagai benda abstrak ada CINTA, kesedihan, kegembiraan, kekayaan, kecantikan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik membasahi kakinya.

Tak lama CINTA melihat kekayaan sedang mengayuh perahu, “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!,” teriak CINTA “Aduh! Maaf, CINTA!,” kata kekayaan “Aku tak dapat membawamu serta nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.” Lalu kekayaan cepat-cepat pergi mengayuh perahunya. CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan! Tolong aku!,” teriak CINTA.

Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak dapat mendengar teriakan CINTA. Air semakin tinggi membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik. Tak lama lewatlah kecantikan “Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!,” teriak CINTA “Wah, CINTA kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu pergi. Nanti kau mengotori perahuku yang indah ini,” sahut kecantikan. CINTA sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak.

Saat itulah lewat kesedihan “Oh kesedihan, bawlah aku bersamamu!,” kata CINTA. “Maaf CINTA. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..,” kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. CINTA putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara “CINTA! Mari cepat naik ke perahuku!” CINTA menoleh ke arah suara itu dan cepat-cepat naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, CINTA turun dan perahu itu langsung pergi lagi. Pada saat itu barulah CINTA sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa yang menolongnya. CINTA segera bertanya pada penduduk pulau itu. “Yang tadi adalah WAKTU,” kata penduduk itu “Tapi, mengapa ia menyelamatkan aku? Aku tidak mengenalinya. Bahkan teman-temanku yang mengenalku pun enggan menolong” tanya CINTA heran “Sebab……HANYA WAKTULAH YANG TAHU BERAPA NILAI SESUNGGUHNYA DARI CINTA ITU” 


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in