MASUK ke universitas atau perguruan tinggi negeri masih merupakan nilai gengsi tersendiri bagi sebagian masyararakat Indonesia. Sebuah harapan besar lahir ketika belajar di universitas untuk menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan siap mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.

Begitulah pandangan sebagian masyarakat Indonesia pada umumnya. Benar, ketika penulis masuk kuliah dan mendapat gelar mahasiswa, itu merupakan kebanggaan sendiri bagi penulis. Sebab masih banyak teman-teman yang kurang beruntung karena gagal lulus tes SPMB maupun yang kurang beruntung karena tidak ada biaya untuk kuliah.

Namun, setelah menyandang status mahasiswa, penulis sadar tanggungjawab yang dipikul sangatlah besar. Tanggungjawab untuk menjadi seorang manusia seutuhnya. Tanggungjawab untuk menjadi manusia yang benar-benar mampu menunjukkan kematangan dan kedewasaan baik perkataan maupun perbuatan. Tanggungjawab untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain.

Setelah mengalami proses yang cukup panjang, penulis yakin semua mahasiswa juga sepakat jika mahasiswa  bisa merasakan hidup yang lebih bermakna dan penuh berwarna. Mahasiswa menjadi harapan untuk melakukan fungsi kontrol. Yaitu kontrol terhadap segala kebijakan pemegang kekuasaan. Kontrol terhadap praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang menjadi tradisi.

Mahasiswa menjadi harapan untuk memperjuangkan rakyat tidak mampu yang seringkali mendapat perlakuan tidak adil dari oknum penguasa. Mahasiswa mempunyai peranan besar memperjuangkan nasib mereka agar mereka tidak terus digusur dan ditindas. Namun itu tampaknya akan terus terjadi jika tikus-tikus kantor dan para “bandit” lebih memihak kaum berduit dan terus merampas hak-hak rakyat kecil.

Selain itu mahasiswa juga berkewajiban mengabdikan diri serta mencerdaskan masyarakat melalui aksi pengabdian kepada masyarakat, seminar/workshop, penelitian ilmiah, kuliah kerja nyata dan aksi-aksi sosial lainnya. Sebagai seorang yang terpelajar maka mahasiswa harus memberikan kontribusi yang baik kepada masyarakat.

Namun, tidak jarang juga aksi-aksi mahasiswa menimbulkan kesan negatif sehingga mendapat kritikan dari masyarakat. Masyarakat juga seakan gerah ketika melihat tingkah laku mahasiswa yang terkadang nyeleneh, dan terkesan buruk, minum minuman keras, apalagi terkadang terlibat tawuran, narkotik dan tindakan kriminal lainnya.

Terlepas dari tindakan dan pandangan plus minusnya tersebut, jelas terlihat bahwa mahasiswa mempunyai suatu potensi dan keinginan yang sangat besar dan terkadang tidak mampu mengendalikannya. Mahasiswa juga manusia yang masih muda dan masih dalam proses pencarian jati diri yang sebenarnya dan sedang dalam proses pendewasaan.

Pembaca yang budiman, menghadapi realitas yang ada, menjadi mahasiswa juga di hadapkan pada fenomena yaitu memasuki dunia kerja. Namun yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah sudah siapkah mahasiswa menghadapi dunia kerja? Apakah kurikulum yang diterapkan kurikulum dan apakah proses perkuliahan sudah memberikan bekal yang cukup untuk menghadapi dunia kerja?

Satu kenyataan yang ironis adalah pengangguran terbesar nomor dua adalah dari kalangan sarjana keluaran dari perguruan tinggi. Ini berarti bahwa kuliah belum bisa menjamin seseorang untuk bisa bekerja sesuai dengan disiplin ilmunya. Oleh karena itu, mulai sekarang kita harus berpikir cerdik bagaimana untuk terus belajar memperdalam disiplin ilmu masing-masing dan terus berusaha berusaha membina dan mematangkan potensi emosional, spiritual, serta intelektual. Sehingga pada akhirnya kita bisa membangun paradigma berpikir dengan berusaha menciptakan sikap entrepreneurship pada diri kita.

Ketika kita kuliah, kita haruslah mengimbangi diri dengan aktif untuk mencari pengalaman-pengalaman yang yang nantinya sangat berguna bagi diri sendiri. Sebab jika hanya mengharapkan hasil di ruang kuliah maka kita akan ketinggalan. Bagaimana tidak, mahasiswa seringkali dijadikan objek di dalam kelas. Mahasiswa masih saja ditekankan untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan apa yang dikatakan dosen, sehingga yang dihasilkan adalah kaset rekaman. Mahasiswa yang terbaik adalan mahasiswa yang mampu melakukan proses recording yang sempurna.

Yang menjadi pertanyaan lagi adalah sudahkah kita sebagai mahasiswa melihat kondisi real masyarakat? Jangan sampai kita terjebak pada pola pikir dan perbuatan yang hanya berdasarkan teoritis. Yang lebih penting adalah bagaimana memadukannya dengan kondisi sosial yang ada. Sehingga apabila mahasiswa terjun kemasyarakat nantinya akan mampu menunjukkan idealisme dan sumbangsihnya yang jelas kepada masyarakat. Meskipun pada kenyataannya pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya.

Organisasi merupankan salah satu wadah yang sangat tepat untuk menambah pengalaman. Terlepas dari berbagai tujuan mengikuti sebuah organisasi di kampus, organisasi akan mampu memberikan proses pembelajaran dan pengalaman bagi mahasiswa yang mampu belajar dan berproses dengan baik.

Oleh karena itu penulis berharap kepada semua pihak, pemerintah, masyarakat dan tentunya pihak perguruan tinggi seperti rektor, dekan dan para dosen untuk melakukan pembinaan sebaiknya agar mahasiswa menjadi golongan cerdas dan kreatif sesuai dengan cita-cita tridarma perguruan tinggi, dan tercapainya sasaran tujuan pendidikan nasional. Yakni pendidikan sebagai usaha sadar untuk  mengembangkan kepribadian dan kemampuan ( kualitas ), serta kedewasaan yang dilakukan di dalam dan di luar kampus. Bukan sebaliknya.

Kepada calon-caon mahasiswa yang baru berhasil di terima di Perguruan Tinggi penulis ucapkan selamat. Maka bersiaplah untuk memasuki dunia baru dan jalani semuanya agar lebih berarti.