Ancaman Pemanasan Global! Waspadalah!!!

Uncategorized 1 Comment »

Danger_1Oleh: Supriadi


Tahun 2040 : 2.000 pulau tenggelam, Gila!!! Itulah kesan pertama penulis ketika membaca email dari mailing list tauziyah. Artike yang berjudul Tahun “2040 : 2.000 pulau tenggelam” itu jelas memberikan pesan kepada kita semua penghuni bumi ini akan bahaya bencana lingkungan di depan mata kita. Oleh karena itu kita harus melakukan tindakan sekecil apapun guna menyelamatkan bumi ini.

Akhir-akhir ini udara semakin panas, dan asap sudah mulai menyelubungi kota Pontianak . Mungkin itu bukanlah suatu masalah yang perlu kita risaukan. Sebab Pontianak merupakan daerah khatulistiwa dan setiap tahunnya mengalami kejadian yang sama. Namun, jika kita hubungkan dengan istilah pemanasan global hal ini tentu ada kaitannya.

Pembaca yang budiman, pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Planet Bumi telah menghangat (dan juga mendingin) berkali-kali selama 4,65 milyar tahun sejarahnya. Pada saat ini, Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan aktifitas manusia.

Rata-rata temperatur permukaan Bumi sekitar 15°C (59°F). Selama seratus tahun terakhir, rata-rata temperatur ini telah meningkat sebesar 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit).

Para ilmuan memperkirakan pemanasan lebih jauh hingga 1,4 - 5,8 derajat Celsius (2,5 - 10,4 derajat Fahrenheit) pada tahun 2100. Kenaikan temperatur ini akan mengakibatkan mencairnya es di kutub dan menghangatkan lautan, yang mengakibatkan meningkatnya volume lautan serta menaikkan permukaannya sekitar 9 - 100 cm (4 - 40 inchi), menimbulkan banjir di daerah pantai, bahkan dapat menenggelamkan pulau-pulau. Beberapa daerah dengan iklim yang hangat akan menerima curah hujan yang lebih tinggi, tetapi tanah juga akan lebih cepat kering. Kekeringan tanah ini akan merusak tanaman bahkan menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman akan bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu berpindah akan musnah. Potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh pemanasan global ini sangat besar sehingga ilmuan-ilmuan ternama dunia menyerukan perlunya kerjasama internasional serta reaksi yang cepat untuk mengatasi masalah ini.

Lalu apakah gejala-gejala pemanasan global tersebut? Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global)

Selain itu perubahan iklim juga menjadi penyebab pemanasan global. Misalnya, meskipun kita sudah memasuki bulan yang terhitung musim kemarau namun hujan deras masih sering datang. Menurut perkiraan, dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal.

Banyak orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam beberapa daerah di Indonesia termasuk ibu kotaIndonesia pantas malu karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan industri). begitulah ungkapan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).

lebih dari separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35% rusaknya hutan kotadan hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara Jakarta. Itu sebabnya, kerusakan hutan di Indonesiabukan hanya menjadi masalah warga Indonesia, melainkan juga warga dunia.

Menurut informasi penulis baca, hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara Inter-governmental yang dipulikasikan oleh Panel on Cimate Change (IPCC) isinya sangat mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 – 0,3o C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat.

Kita akan merasakan udara yang sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan karena terjadi kekeringan dan kemarau panjang. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.

Gejala serupa sudah terjadi di Indonesia. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu minimum di Sumatera Utara meningkat 0,17o C per tahun. Di Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per tahun. Gejala lain adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia, Gunung Jayawijaya di Papua misalnya.

Yang lebih mengerikan lagi adalah hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007). Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daerah-daerah di Jakarta akan terendam semuanya.

Sudah seharusnya kita semua khawatir dengan gejala-gejala ini. karena kita tinggal di negara kepulaun yang sebagian besar daerah dikelilingi oleh laut. Sudah jelas pemanasan global ini mengancam kedaulatan negara. Melelehnya Es di kutub-kutub terus mengalir ke laut lepas dan menyebabkan meningkatnya intensitas air. Pulau-pulau kecil terluar di Indonesia bisa lenyap dari peta bumi. Otomatiskedaulatan negara akan terancam karena pulau-pulau tersebut lenyap dan menghilang.

Selain itu dalam 30 tahun mendatang diperkirakan sekitar 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam. jutaan orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat tinggal. Potensi pariwisata bahari Indonesia yang terkenal di seluruh dunia juga akan terancam.

Pembaca yang budiman, diperkirakan 10 tahun lagi hutan Kalimantan akan habis termasuk di Kalimantan Barat, 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu, anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih. hal tersebut pasti akan terjadi jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk anak-anak kita nanti jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet Mars.

Berikut adalah cara-cara praktis dan sederhana ‘mendinginkan’ bumi. Pertama, matikan listrik ika tidak digunakan. jangan tinUsahakan jangan meninggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger handphone, TV atau komputer serta alat-alat elektronik lainnya dari stop kontak. Meskipun listrik tak mengeluarkan emisi karbon, tetapi ternyata pembangkit listrik PLN menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi). Kedua, jika anda memakai AC aturlah suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C). Tutuplah pintu dan jendela selama AC menyala dan gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll). Ketiga, menanam pohon di lingkungan sekitar kita. Hal ini sangat bermanfaat untuk menambah rindang halaman rumah dan untuk penghijauan sehingga suasana terasa lebih dingin. Selanjutnya ataur pengeluaran atau pembuangan asap pada kendaraan kita agar asap tidak menambah parah polusi di daerah kita. Kemudian bagi anda yang suka membajir kertas, stop sekarang juga. Hematlah penggunaan kertas karena bahan baku kertas tersebut berasal dari kayu. Terakhir, jangan bakar sampah plastic karena menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Sebaiknya dikumpulkan saja untuk didaur ulang kembali.

Hal terkecil yang dapat kita lakukan adalah menyampaikan pesan ini kepada rekan-rekan kita. Dan kepada para pemimpin untuk melakukan langkah-langkah kongkrit agar pemanasan global dapat dikurangi khususnya di Indonesia. Yaitu dengan menyelamatkan hutan-hutan dari para pengusaha illegal atau cokong-cukong kayu yang tidak bertanggung jawab. Tangkap dan adili mereka bukan malah sebaliknya terlibat melindungi dengan melindungi mereka karena sudah merasakan nikmatnya uang dari hasil perbuatan illegal. Kepada para aktivis lingkungan untuk terus bergerak memperjuangkan lingkungan demi terwujudnya lingkungan yang bersahabat bagi kita semua.

“Maha” Dahsyatnya Bahasa

Uncategorized No Comments »

2794540517857m
oleh: Supriadi

Kehidupan masyarakat Indonesia pada era ini sudah mengedepankan
demokrasi. Kehidupan demokrasi dimulai saat pertama kali bangsa
Indonesia mengadakan pesta demokrasi pada tahun1955 . Bahasa mempunyai “power” yang maha dahsyat dalam hal ini. Kemudian, bahasa menjadi alat represif. Bahasa menjadi alat untuk menghegomoni. Sebagai alat, bahasa pun dapat direkayasa,
dimanipulasi, atau diolesi di sana-sini.

Pembaca yang budiman, asal segala ketaatan adalah pemikiran.
Demikian pula asal segala kemaksiatan. Hasil pemikiran itu dioperasionalkan melalui bahasa. Kitab suci Alquran, Injil,
Taurat direkam menggunakan media bahasa. Teks proklamasi
Kemerdekaan, Sumpah Pemuda maupun lagu Indonesia raya.
dan lain-lain juga dituangkan dengan menggunakan media bahasa.
Kemampuna berbahasa di miliki manusia dari sejak lahir.
Begitulah teori dari salah satu pakar bahasa yaitu Chomsky (1957).
Salah satu teorinya yang terkenal Innate Hypothesis,
yang menyatakan bahwa kemampuan berbahasa pada manusia sudah ada  sejak lahir. Kemampuan itu secara  potensial ada dalam otak
manusia Language Acquisition Device (LAD).


Seiring perkembangan manusia bahasa menjadi alat kominikasi.
Ia berupa kata, frasa, klausa atau kalimat yang tidak punya makna.
Tetapi manusilah yang memaknainya. Tubuh manuasia juga bahasa. Semua realitas social termasuk symbol, atau kalimat isayarat juga termasuk bahasa.

Seiring perkembangannya bahasa menjadi alat untuk membangun sumber daya manusia, untuk menghibur bahkan untuk kekuasaan. Bahasa Indonesia digunakan oleh masyarakat Indonesia yang memiliki keanekaragaman dalam bahasa, adat-istiadat, dan budaya. Bahasa yang digunakan bisa mencerminkan derajat sesorang. Karena itu, pilihan dan keterampilan terhadap bahasa diharapkan dapat mencerminkan kecermatan berpikir yang menggambarkan kejernihan dalam berlogika. Lantas, mengapa  artikel ini berjudul Maha dahsyatnya bahasa? Sebuah kata yang diluncurkan seseorang bahkan bisa menjadi senjata yang mematikan bagi orang lain. Kekuasaan pun  dioperasionalkan melalui bahasa.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa bahasa sangat efektif untuk menciptakan pengaruh. Di dalam dunia politik bahasa sering digunakan  sebagai alat politik. Ia digunakan dalam kaitannya dengan percaturan kekuasaan (power). Karena itu, bahasa politik tidak selalu dipakai untuk kejernihan makna. Bahasa yang digunakan dan dimanipulasi untuk kepentingan pemerintah dan elite politik sehingga terjadi rekayasa bahasa dengan memunculkan hegemoni makna kata merupakan penyimpangan dari fungsi bahasa, yaitu sebagai alat kerja sama.

Hegemoni adalah perluasan dan pelestarian ‘kepatuhan aktif”dari
kelompok-kelompok yang di dominasi kelas berkuasa lewat penggunaan kepemimpinan intelektual, moral dan politik… (Latief, 1996). Dengan kata lain bahasa untuk menciptakan kesadaran dalam bentuk yang paling canggih.

Hegomoni dalam bahasa terlihat dalam penggunaan eufemisme yang
dimaksudkan untuk membodohi masyarakat. Menebarkan kebohongan, memutarbalikkan fakta dapat menimbulkan keresahan masyarakat yang menyebabkan terjadinya konflik karena kata-kata memiliki kekuatan yang dahsyat untuk memengaruhi.

Bahasa birokrasi terkait erat dengan system kekuasaan. Segolongan
anggota masyarakat, khususnya para birokrat meluluhkan diri mereka
dalam sistem ini. Namun tak jarang mereka juga meniru kebiasaan
berbahasa dari penguasa tertinggi, sebagian lain berusaha keluar
dari system hegemoni bahasa itu.

Ada juga pemilihan kata-kata yang mengandung eufemisme. Menurut hemat penulis, eufemisme sebaiknya digunakan untuk kesantunan bukan untuk membodohi. Eufemisme yang digunakan untuk membodohi masyarakat sudah seharusnya ditinggalkan. Penggunaan kata-kata penyesuaian harga cenderung mengandung makna pengelabuhan. Karena hal yang terjadi sebenarnya kenaikan harga. Dengan menggunan kata-kata penyesuaian harga diharapkan masyarakat tidak merasa terbebani.

Dengan membiasakan diri menggunakan kata-kata yang baik, tidak
mengandung muatan makna yang dapat menyinggung perasaan orang lain, memilih dan menyusun kata-kata yang mencerminkan cermat logika, ekonomis, tanpa mengaburkan makna berarti kita membiasakan diri untuk membangun SDM yang memiliki sikap berkualitas. Sistem bahasa tertentu yang merupakan kompetensi penutur bahasa akan menampakkan wujudnya dalam performansi seseorang (Chomsky, 1957).

Pada akhir dari tulisan ini penulis ingin berpesan kepada para
birokrat untuk tidak menyalahgunakan bahasa demi kepentingan
kekuasaan semata. Penggunaan bahasa yang hanya untuk membodohi
masyarakat sudah seharusnya ditinggalkan.

Buat “Si Miskin”

Uncategorized No Comments »

SymbolOleh: Supriadi

 
IndonesiaPembaca yang budiman, mengapa ada label “SI MISKIN” atau “ORANG KECIL” di masyarakat kita? Penulis heran, siapa sih yang menciptakan istilah ini. Apakah dia sudah merasa menjadi orang besar sehingga dengan enaknya memanggil rakyat “orang miskin” “orang kecil”? Mereka semua sama dengan saudara, sama dengan kita semua sebagai  warga Negara.    Kita semua sama di hadapan hukum apalagi di hadapan Tuhan. Kita semua mempunyai hak atas kehidupan yang layak. Kita semua memunyai hak yang sama mendapatkan pendidikan dan pengajaran sesuai undang-undang dasar yang berlaku.

 

Pernahkah kita meneliti apa dampak negatif dari ‘stempel’ warga miskin pada siswa-siswa kita. Hal tersebut tentu bisa menurunkan citra diri sehingga mereka menjadi anak-anak yang terstigmatisasi dan memiliki self esteem yang rendah. Kalau sudah seperti itu bagaimana untuk berprestasi?. Bagaimana untuk membentuk karakter yang tangguh? Karakter seorang pemimpin yang percaya diri, jujur, kreatif dan penuh inovatif?

 

Pendidikan dasar dan kesehatan yang memang sudah semestinya menjadi hak masyarakat. Tetapi mengapa warganegara mesti ditempeli ‘cap’ KELUARGA MISKIN?!!! Tidakkah itu suatu bentuk diskriminasi? Jelas sudah bertentangan dengan undang-undang Sisdiknas. Tidakkah istilah ‘warga miskin’ itu mengusik harga diri warga negara kita sendiri?

 

Dan juga sebaliknya istilah ”You cannot when you think you cannot.” Benar-benar berlaku disini. Karena sudah distempel termasuk golongan “CANNOT” maka mereka jelas sulit untuk berprestasi. Tanpa kita sadari kita sudah meracuni pikiran mereka atau bahkan pikiran kita sendiri dengan stempel ‘WARGA MISKIN” tersebut!

 

Pertanyaan adalah apakah hati kita sudah cukup “kaya” untuk memanggil mereka orang miskin?

 

 


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in