Pendidikan Gratis

Pendidikan No Comments »

Pendidikan Gratis Vs “Political Will”

Oleh: Supriadi

Pembaca yang budiman, senang sekali bisa menyelesaikan artikel yang berjudul “Pendidikan Gratis Vs “Political Will”?” ini. penulis menyadari tulisan ini masih banyak kekurangan, maka kritik dan saran sangat diharapkan oleh penulis mengenai topik yang diangkat ini.

Pada artikel kali ini penulis ingin menyampaikan apa yang sering mengusik hati kecil ini. Penulis sering menyatakan bahwa untuk menjadi sebuah Negara yang “besar” kita tidak harus saling menyalahkan dan menjatuhkan. Tapi kali ini penulis kecewa dengan pemerintah. Penulis ingin menggugat pemerintah untuk bertanggungjawab. Yaitu untuk menyelenggarakan tidak hanya pendidikan yang berkualitas tetapi juga pendidikan yang Gratis. Tidak ada tawar menawar lagi. Pendidikan gratis untuk semua golongan. Jangan katakan tidak! Karena kita mampu melakukannya.

Di Jembrana Bali misalnya. Bupati Jemberan Bali adalah Bupati pertama yang memberikan pendidikan dan pelayanan gratis kepada semua lapisan mayarakat tanpa  mendiskiminasikan golongan tertentu. Andai semua “penguasa” mempunyai “politcal will” yang sama.  (M.Nurdin: 2005)

Banyak kasus telah terjadi akibat mahalnya biasaya sekolah. Dari anak putus sekolah, kemudian anak menjadi pekerja di bawah umur, banyak anak yang stress, bahkan banyak yang nekat bunuh diri. Andang misalnya, Siswa SD garut nekat gantung diri karena tidak mampu membayar uang ekstra kurikuler. Sedangkan DI Tegal, seorang anak SD nekat mencoba bunuh diri, dengan alasan menunggak SPP 9 bulan (Pontianakpost Edisi: Kamis, 17 Mei 2007 ).

Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mendesak pemerintah untuk segera mewujudkan pendidikan gratis agar semua anak bisa bersekolah. Namun yang ada hanyalah janji. Sekali lagi JANJI. Kapan akan ditepati BUNG? bukankah tugas utama anak-anak seharusnya adalah belajar yang banyak, karena posisi mereka sebagai generasi penerus.

Besarnya biaya pendidikan, yang berujung pada ketidakmampuan pihak pembiaya (orang tua, wali maupun anak sendiri) dalam membayar, mengharuskan anak putus sekolah. Kasus seperti ini belakangan jumlah-nya terus meningkat, menjadi fenomena di seluruh pelosok tanah air.

Putus Sekolah Tidak Seharusnya Terjadi

Melihat kasus putus sekolah-nya anak anak usia sekolah khususnya di Kalimantan Barat misalnya yang cukup tinggi yaitu sebesar 2,5 persen merupakan sebuah fenomena yang seharusnya tidak terjadi. (Warta Pemprov - 08/07/2005). Sebagai Hak Asasi Manusia pendidikan
seharusnya menjadi kewajiban pemerintah, tidak soal siapa yang menjadi Bupati, Gubernur ataupun Presiden, jika itu tidak terjadi maka secara terbuka pemerintah telah melanggar HAM, pemenuhan hak pendidikan tidak hanya dalam penyediaan sarana pendidikan dan guru. Kalau tidak mampu merealisasikn atau menepati janji
sebaiknya segera mundur dari kursi kepemiminan yang sudah “reot” atau bagi yang mau mencalonkan diri menjadi pemimpi terutama Gubernur, walikota, bupati dan sebagainya sebaiknya jangan terlalu banyak berjanji jika tidak mamu menepatinya nanti.

Dalam kasus seperti putus sekolah di Indonesia saat ini, jalan keluar yang paling mungkin adalah pendidikan anak harus gratis, pendidikan gratis di dalamnya termasuk penyediaan segalah fasilitas pendidikan seperti, alat tulis, sarana pendidikan lainya, solusi ini akan menurunkan tingkat putus sekolah karena alasan faktor eksternal, di harapkan ke depan tidak ada lagi alasan bagi anak-anak untuk tidak
sekolah.

Masih juga segar diingatan kita sumua bagaimana SBY JK berjanji di hadapan publik pemilihnya di masa kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden beberepa waktu lalu. “Kami akan memberikan perhatian lebih kepada dunia pendidikan. Semua pihak harus mencatat janji kami dalam hati yang paling dalam”. Kemudian beliau
(SBY) menegaskan mulai tahun 2005 pemerintah akan membebaskan biaya pendidikan bagi anak-anak terutama di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah tingkat pertama. (Kompas, 18 Juni 2005)

Mereka sudah berjanji berarti mereka harus menepati. Nabi mengingatkan janji adalah hutang yang wajib di bayar. Orang bijak bertutur “Ketika sudah berjanji maka tidak ada kata lain kecuali harus ditepati. Sekarang tidak henti-hentinya rakyat menagih janji.

Kalau tidak sekarang kapan lagi? Kalau tidak untuk rakyat untuk siapa lagi? Pembaca yang budiman tentunya kita semua sepakat jika masa depan kemajuan suatu bangsa tergantung kepada bagaimana pendidikan saat ini terhadap anak-anak bangsa. Oleh karena itu sudah saatnya pemerintah mendengarkan hati nurani. Sudah saatnya menggunakan “power” atau kekuasaan dan “political will” nya untuk menepati janji yang yang sudah di gembar-gemborkan
sebelumnya. Semoga…

Penulis adalah mahasiswa FKIP Untan Pontianak

Puasa dan Revolusi Diri

Religion No Comments »

“Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menumpahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi
melampiaskan” (Emha Ainun Radjib)

Hari ini adalah hari pertama umat muslim melaksanakan
ibadah puasa di bulan Ramadhan. Dengan berpuasa kita
disuruh langsung berpakaian ketiadaan. Tidak makan,
tidak minum dan lain sebagainya. Bulan Ramadhan adalah
bulan yang penuh berkah dan ampunan. Selain memerintah
shaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan,
Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan
pesan-pesan. Inilah ‘azimat’ Nabi tatkala memasuki
Ramadhan.

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan
Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah.
Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya
adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya
adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya
adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah
dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu
menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima
dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah
Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar
Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca
Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di
bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan
hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum
fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu,
sayangilah yang muda, sambungkanlah tali
persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari
apa yang tidak halal kamu memandangnya dan
pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu
mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya
dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah
kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah
tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu
karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah
Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh
kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya,
menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan
mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa
kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai
karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar.
Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka
ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala
kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab
orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan
mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia
berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka
kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini,
maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan
seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa
yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya
Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat
demikian.”

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka
walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu
dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di
bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim
pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang
meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan
kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah
akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.
Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah
akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa
dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di
bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia
berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali
persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan
menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia
berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan
kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan
rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah
akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.
Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran
seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.
Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan
ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari
ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini
membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti
mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga
dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar
tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka
tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan
pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka
mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul
mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya
Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?”
Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di
bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan
Allah”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh
bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan,
yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang
lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah
menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam
harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan
suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia
dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam
bulan yang lain.”

“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu
adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan
memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan
Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang
berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan
pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari
neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh
pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun
berkurang.”

Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua
kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain
yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah
memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir
kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya
ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka.
Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya
(termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah
mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di
bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan
keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat
menghajatinya.”

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan
sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan
mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat
memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari
neraka.”

“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka
puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air
kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan
haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam
surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).
Demikianlah pesan-pesan Rasulullah. Semoga bisa
menjadi bekal bagi kita dalam menjalankan Ibadah buasa
pada tahun ini. Semoga kualitas puasa tahun lebih baik
dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga memberikan
perubahan kepada kita semua sesuai dengan motivasi dan
semangat kita. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah
mampukah kita merevolusi diri di bulan Ramadhan ini?

OPSPEK lagi, OPSPEK lagi!

Uncategorized 1 Comment »

OPSPEK lagi, OPSPEK lagi!

oleh:Supriadi)*

Bagi banyak mahasiswa, masa orientasi adalah masa yang
manis dikenang, tetapi tidak ingin diulang. Berikut
sedikit penulis ceritakan sedikit pengalaman yang
tidak pernah penulis lupakan semasa mengikuti masa
orientasi di kampus beberapa tahun yang lalu.

Pada saat itu kurang lebih pukul 3 pagi sudah
meninggalkan rumah setelah seharian mempersiapkan
berbagai perlengkapan sampailah di persimpangan jalan
yang tidak jauh dari kampus. Berbagai bentuk sambutan
hangat didapatkan di sana. Mulai dari sambutan berupa
tanya jawab layaknya seorang wartawan dengan nara
sumbernya. Disertai tapar pipi kiri, dan tanpar pipi
kanan. Kemudian berbagai hukuman layaknya seorang
tahanan perang bohong-bohongan. Pus-up, sit-up,
lari-lari, perang-perangan, dan berbagai macam lagi
bentuk “kreativitas abang-abang" senior pada saat itu.
Ada-ada saja ide mereka. Tidak sedikit yang
mencucurkan air mata. Namun tidak sedikit pula yang
terlihat penuh semangat dan keceriaan dalam menjalani
semuanya. semua itu merupakan “bumbu-bumbu” penyedap
agar kegiatan berlangsung dengan penuh kreativitas.
Nilai-nilai moral dibalik kegiatan itu yang harus
digali dan ternyata mengandung makna yang sangat
berharga dan tidak ternilai harganya.

Memang benar OPSPEK (Orientasi Program Studi dan
Pengenalan Kampus) yang dilakukan di perguruan tinggi
negeri dan swasta itu kadang-kadang menimbulkan ekses
negatif. Maka aksesnya itulah yang harus dihindari
agar tidak terjadi korban kekerasan bukan Opspeknya
yang harus dihilangkan.

Pro dan kontra seputar penghapusan kegiatan orientasi
seperti tahun-tahun sebelumnya terus menjadi topik
yang hangat untuk didiskusikan. Opspek sebenarnya
merupakan bagian dari tradisi kampus yang tidak perlu
dihilangkan, karena bertujuan positif yakni menyiapkan
mahasiswa baru dari kebiasaan belajar di sekolah
menengah menjadi mahasiswa.

Pembaca yang budiman, kerap terjadi apa yang dialami
di masa opspek bakal dilakukan di masa-masa kuliah.
Bagaimana seorang mahasiswa harus mengerjakan tugas
hingga lembur, strategi apa yang harus dihadapi ketika
harus berhadapan dengan dosen killer, bagaimana
meredam kejengkelan ketika mendapat nilai E, padahal
sudah melaksanakan kuliah dengan rajin. Kejadian ini
merupakan pengembangan dari apa yang dialami di saat
opspek. Bisa disimpulkan bahwa opspek merupakan
kehidupan mini dari apa yang bakal terjadi di
kehidupan kampus selanjutnya. Sehingga wajar jika
dalam mengikuti ospek, dibentak senior karena tidak
mengumpulkan tugas. Karena tidak menutup kemungkinan
hal itu akan terjadi di kemudian hari. Kehidupan
kampus yang lebih bernuansa kebebasan (dibanding saat
di sekolah lanjutan), tentu harus diiringi dengan
sikap, strategi, dan alur pikir yang lebih dewasa.

Hal-hal yang ditugaskan oleh panitia atau senior bukan
harus disikapi dengan anggapan bahwa hal itu merupakan
perpeloncoan semata. Sebagai orang yang mulai beranjak
dewasa, mahasiswa baru dituntut untuk berpikir cerdas,
mencari strategi bagaimana mensiasati atau
melaksanakan tugas para seniornya. Hal ini akan
berlanjut jika memasuki bangku kuliah, kita harus
mempunyai strategi jitu saat menghadapi hambatan dan
rintangan, baik dari dosen, teman, atau bahkan dari
lingkungan yang kerap tidak bersahabat. Perpeloncoan
dari sebuah orientasi kampus ibarat kerikil tajam di
jalanan. Bagaimana strateginya agar kerikil tersebut
tidak terinjak. Inilah seninya memasuki kampus baru
dengan beragam corak kehidupannya.

Di sisi lain bagi mahasiswa baru yang menikmati masa
orientasi dengan ikhlas dan gembira- bisa jadi
masa-masa itu akan selalu dikenang hingga di kemudian
hari. Peristiwa-peristiwa yang unik akan menimbulkan
kenangan tersendiri, walaupun kita sudah cukup lama
mengingatnya.

Apalagi saat kita melihat mahasiswa baru sedang sibuk
menyiapkan segala keperluan ospek, kita akan tertawa
sendiri. Jadi kesannya, masuk perguruan tinggi tanpa
ospek bagaikan masakan tanpa garam. Merenunglah
sejenak dan camkan pertanyaan ini: Apakah kegiatan
orientasi harus ditiadakan? Kalau kita berpikir bijak,
nampaknya jawabannya tidak perlu. Karena segala bentuk
kegiatan akan memunculkan dampak. Sehingga akibat
negatif itulah yang harus diminimalisasi. Harus
diakui, jika kegiatan orientasi mahasiswa baru
dilaksanakan dengan benar, kejadian yang tidak
diinginkan akan sangat kecil. Sebab bisa jadi
peristiwa perpeloncoan yang berakibat fatal hanya
dilakukan oknum. Disadari betul bahwa dalam kehidupan
kita selalu saja ada oknum yang tidak bertanggung
jawab. Perbuatan oknum inilah yang harus
ditanggulangi. Bukan malah menghilangkan beberapa
bagian dari proses yang hasil terbaik yang ingin
dicapai itu justru proses perjalanan itu sendiri.
Sesungguhnya masa oriantasi merupakan bagian terkecil
dari proses pembelajaran yang kita lakukan. Sehingga
apabila proses itu tidak diikuti atau tidak
dilaksanakan maka tujuan yang ingin dicapai tentunya
tidak akan sesuai dengan harapan.

Namun kondisi sekarang sebagian besar mahasiswa baru
tidak lagi menemukan “kegilaan” seperti pendahulunya.
Semoga saja hasil yang lebih baik dapat dicapai
seperti yang kita harapkan dimana tidak hanya bekal
strategi kuliah yang didapat tetapi juga terjadi
ikatan emosional dan komunikasi yang baik antara
mahasiswa baru dan “abang-abang” atau kakak
tingkatnya. Sehingga “atmosfer” kebersamaan dan
kekeluargaan di lingkungan kampus tidak memudar
seperti yang dikhawatirkan banyak pihak. Semoga saja
para pegiat organisasi mahasiswa sekarang tetap fokus
dalam melakukan proses pembinaan atau pengkaderan agar
pergerakan mahasiswa pada masa akan datang tetap
mempunyai "ruh" dan kekuatan serta tidak menyerah
terhadap kondisi sulit yang dihadapi. Semoga…!

Si Pemarah!

Uncategorized 2 Comments »

STOP Menjadi Si Pemarah!

Oleh: Supriadi

"Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah
hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu
tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di
antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak
mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang
bijaksana. Karena waktu akan membantu anda."

Anda biasa marah ? Mungin banyak yang menganggap marah
itu biasa saja dan menjadi hal yang tidak biasa salam
kesehariannya. Terutama bagi mereka yang hidup di
kota-kota besar, mereka yang hari-harinya disibukkan
banyak pekerjaan dan permasalahan. Siapa saja pasti
tidak lepas dari rasa amarah ini. Ketika terlibat
dikemacetan jalan atau terlibat persilisihan atau
salah paham dengan teman atau rekan kerja dan
sebagainya. Memang sulit untuk mengendalikannya
apalagi kondisi kita tidak sedang “balance” baik fisik
maupun mental. Sehingga tidak jarang kita mengalami
strees.

Namun benarkah marah itu biasa-biasa saja dalam
kehidupan kita ini? Marah timbul apabila realitas yang
ada tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Kadang
kita marah jika seseorang menghianati kita. Bahkan
kita bias marah dengan siapa saja. Dengan orang tua,
anak, guru, sahabat, guru, rekan kerja, bahkan marah
terhadap “sang pencipta”. Wow, untuk marah kepada yang
terakhir itu tentunya perlu benar-benar diperhatikan.
Jangan sampai terulang kembali karena bisa membuat
kita celaka bukan?

Marah bisa terjadi dimana saja. Dirumah, dikantor, di
jalan, di pasar, di sekolah, di kampus dan dimana
saja. Di rumah, suami bisa marah marah kepada istrinya
karena sang istri tidak sesuai dengan harapan suami.
Harapan untuk istri tetap cantik dan menjadi istri
yang solehah bisa saja tidak sesuai dengan harapan dan
bisa menimbulkan kemarahan dari seorang suami kepada
istrinya tersebut. Atau sebaliknya. Istri juga bisa
marah dengan suaminya atau dengan anaknya sendiri.
Bahkan anak juga biasa kita jumpai marah dengan orang
tuanya.

Sekarang mari kita melihat marah lebih ilmiah lagi.
Satu langkah awal yang harus dilakukan adalah kita
tidak menganggap marah itu biasa. Marah jelas bukan
hal yang biasa-biasa saja. Marah adalah suatu kondisi
yang luar biasa yang terjadi pada diri seseorang.

Berikut sebuah cerita yang bisa kita renungkan
bersama. Suatu hari sang guru bertanya kepada
murid-muridnya; "Mengapa ketika seseorang sedang dalam
keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat
atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat
tangan dan menjawab; "Karena saat seperti itu ia telah
kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."
"Tapi…" sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya
justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak?
Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang
dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak
satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu
berkata; "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi
kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi
amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat.
Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka
harus berteriak.

Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin
pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak
hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih
jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih
keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan; "Sebaliknya, apa yang
terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka
tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka
berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu
halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa
mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa
demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan
para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun
tak satupun berani memberikan jawaban. "Karena hati
mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada
akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah
pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka
memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan; "Ketika anda sedang
dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak.
Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang
mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat
seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin
merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan
membantu anda."
Kembali ke topik tentang marah tadi. Setelah kita tahu
bahwa realitas tidak seperti yang kita inginkan, maka
benar-benar kita harus sangat arif dan bijak
menghadapi semua hal yang tidak sesuai dengan harapan
kita. Sepertinya kita harus belajar untuk memilah
dengan apa yang terjadi dalam rasa kita.Kita harus
belajar untuk mengendalikan marah kita bukankah rasul
telah bersabda “Yang dikatakan orang kuat bukanlah
orang yang menang bergulat tetapi yang dikatakan orang
kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya
pada waktu marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saatnya kita mulai mengendalikan marah kita dan
berusaha terus untuk menghiasi hati kita dengan
nilai-nilai cinta dan kasih saying. Persoalan apapun
yang terjadi dalam hidup kita, tentu harus kita
selesaikan, namun jangan kita menyertakan marah dalam
penyelesaian itu. Pilihan selalu berada ditangan kita.
Apakah kita ingin menjadi si pemarah atau si pecinta
atau si penyayang?

Semoga kita bisa jadi pribadi yang bisa mengendalikan
amarah dalam diri kita dan sabar dalam menghadapi
ujian hidup ini karena yakinlah semua ujian itu
merupakan bukti kecintaan Sang Maha Pecinta kepada
kita umatnya.

Catatan Harian

Uncategorized No Comments »

Catatan Harian

“Marilah kita berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memupuk diri dengan berbagai kebiasaan berbuat baik. Jangan sampai berlaku pepatah "sesal kemudian tiada guna". Tanpa terasa sudah hampir pagi ketika membaca artikel-artikel motivasi di situs pembelajar.com.

Penulis tertarik dengan sebuah artikel dari Toni Yoyo yang berjudul “Refleksi Keseharian”. Beberapa hari belakangan ini motivasi penulis sendiri memang cenderung menurun dikarenakan kurangnya manajemen waktu yang dilakukan. Hal tersebut membuat penulis kerepotan sendiri dalam melaksanakan aktivitas sehingga pada akhirnya berkibat menurunnya kondisi ketahanan tubuh dan sedikit berpengaruh pada emosi penulis. Sehingga kadang suka marah-marah dan sedikit stress. Namun hal itu tidak disia-siakan dan memberikan inspirasi untuk menjadi bahan refleksi dalam artikel yang berjudul “Stop menjadi Si Pemarah (baca: harian equator:edisi 12 September 2007)

Berikut sedikit penulis ceritakan kembali “refleksi Keseharian” yang ditulis oleh Toni Yoyo dengan harapan untuk dapat menjadi bahan renungan dan motivasi bagi kita semua. Seperti orang-orang kebanyakan yang bekerja di kantor, Toni pasti sibuk pada setiap hari kerjanya. Dimulai dari malam hari dengan menyiapkan pakaian kerja untuk esok hari. Dibantu oleh istri yang disebutnya ‘crew’ di rumah, kadang dia menyiapkan bekal makan siang harinya. Tidak hanya itu, dia juga menyiapkan hal-hal lainnya seperti uang yang cukup untuk ongkos transportasi dan antisipasi kebutuhan di perjalanan dan di kantor. Tidak ketinggalan berkas kerja maupun hal lain yang barangkali dibutuhkan, juga beliau persiapkan.

Singkat cerita dia selalu mempersiapkan berbagai hal termasuk jika mau tidur dia dengan menggosok gigi terlebih dahulu, memastikan anak-anaknya sudah tidur, dan pintu serta jendela sudah terkunci. Menarik bukan? Begitulah kebiasaan orang-orang yang mampu memanajeman waktunya. Mereka adalah orang-orang yang selalu ingin memberikan dan berbuat terbaik dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bagaimana dengan anda dan kita semua? Penulis sadar bahwa tidak semua orang mempunyai kebiasaan tersebut. Kadang kita terlarut dalam zona kenyamanan yang membuat kita lupa pada hal-hal penting pada esok hari atau waktu yang akan datang. Sehingga kita sering melakukan sesuatu tanpa perencanaan yang matang. Bukankah gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan?

Persiapan yang buruk biasanya banyak dilakukan para pelajar di Indonesia dalam mengikuti pelajaran di sekolah atau di kampus. Anto misalnya, sebagai seorang mahasiswa, dia begadang semalam suntuk menghadapi ujian akhir penentu kelulusannya. Kamar indekosnya tidak memiliki ruang lagi bagi badan untuk sekadar meluruskan punggung karena dipenuhi buku-buku, fotokopi-an, dan catatan-catatan berserakan. Saat waktu menunjukkan jam 07:00, satu jam lagi ujian berlangsung, konsentrasi Anto terganggu karena sejak kemarin sore mempersiapkan ujian akhirnya ini. Buruknya persiapan dalam belajar ini (SKS atau sistem kebut semalam) membuatnya terasa tersiksa sehingga belajar menjadi beban bagi dirinya.

Membuat persiapan tentunya harus dilakukan dengan kreatif dan efektif sesuai dengan kemampuan kita. bukan sebaliknyas sehingga bisa memberatkan bahkan bisa menyiksa diri sendiri. Oleh karenan bertapa pentingnya persiapan dalam melaksanakan aktivitas sehari, baik itu persiapan untuk pergi ke kantor, persiapan belajar di sekolah atau di kampus, atau dimana saja saja maka kita mulai sekarang belajar untuk memanajemen waktu atau kegiatan kita setiap harinya. Kita dapat membiasakan diri dengan membuat diary atau catatan perencanaan keseharian atau catatan kegiatan yang kita alami sehari-harinya. Dengan mencatat apa yang akan dan telah kita lakukan ini terbukti bisa memberikan manfaat yang besar pagi siapa saja yang melakukannya.

Menulis daftar perbuatan baik kita juga sangat bermanfaat. Namun tidak hanya ditulis tentunya tetapi harus direalisasikan tentunya. Sebab tanpa direalisasikan makan akan menjadi sia-sia dan tidak bermakna. Bukankah berbagai perbuatan baik, mulai dari yang kecil, sedang, sampai besar yang dapat kita lakukan setiap harinya?. Seringkali kesempatan berbuat baik tidak disodorkan ke depan kita tetapi kitalah yang harus secara aktif mencari atau membuatnya. Marilah kita berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memupuk diri dengan berbagai kebiasaan berbuat baik. Jangan sampai berlaku pepatah "sesal kemudian tiada guna".


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in