Bahasa Inggris? Siapa Takut!
Uncategorized No Comments »Oleh: Supriadi)*
Saat ini bahasa Inggris mempunyai peranan penting di berbagai asek kehidupan. Hal tersebut tidak diragukan lagi bukan? Bagaimana tidak, mulai dari anak di level TK, Sekolah Dasar sampai perguruan tinggi bahasa Inggris menjadi barang laris manis dan semakin gemar dipelajari. Hal ini jelas membuat bahasa Inggris semakin dekat dengan bangsa Indonesia.
Dunia teknologi informasi, ekonomi, sampai dengan urusan gaya hidup hampir seluruhnya mempercayakan label mereka dalam bahasa Inggris. Hal tersebut tentunya agar dapat diakses tidak hanya di dalam negeri tetapi juga luar negeri. Ini jelas bahwa Bahasa Inggris menduduki peranan besarnya dalam mengantarkan Indonesia ke dunia internasional. Selain itu juga tidak dapat dipungkiri segala sesuatu akan kelihatan ”cool” jika menggunakan bahasa Inggris.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah pembelajaran bahasa Inggris khususnya di sekolah formal sudah dikatakan berhasil? Hal tersebut tentunya sangat relatif. Karena pembelajaran bahasa Inggris merupakan sebuah proses yang panjang dan berlangsung terus menerus. Keberhasilan anak dalm memelajari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (second language) juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor dari dalam diri anak itu sendiri juga faktor dari luar, yaitu faktor lingkungan keluarga, teman sepermainan, masyarakat, sekolah dan sebagainya.
Pembaca yang budiman, lalu siswa seperti apakah yang mampu mengembangkan bahasa Inggris mereka? Memang belum ada penelitian tentang ini, namun menurut pengamatan penulis dan hasil diskusi terdapat tiga kategori siswa sekolah yang berhasil mengembangkan kemampuan bahasa Inggris.
Pertama, mereka yang mampu mengakses lembaga-lembaga kursus yang baik, yang biasanya hanya ada di kota. Kedua, mereka yang tidak mampu mengakses kursus bahasa Inggris yang baik karena bersekolah di daerah atau secara finansial tidak mampu, tetapi secara akademis potensial dan memiliki motivasi sangat tinggi terhadap bahasa Inggris. Ketiga, mereka yang bersekolah di lembaga-lembaga pendidikan model pondok pesantren yang memiliki program penguatan bahasa Arab dan Inggris.
Pembaca yang budiman, budaya ‘malu’ disinyalir sebagai penyebab kesulitan terbesar dalam aplikasi Bahasa Inggris kehidupan sehari-hari. Rasa kurang percaya diri pembelajar bahasa Inggris tidak hanya anak-anak, tetai juga rang dewasa yang tersimpan menghambat kemampuan berbahasa mereka. Ada pepatah yang mengatakan bahwa bisa karena biasa bukan? Nah, jelas jika malu untuk berbicara bahasa Inggris maka kita tidak akan bisa mengembangkan diri karena malu untuk dan tidak mau membiasakan diri. Alasan klasik adalah malu dan takut salah atau dicap sombong. Selain itu target terlalu tinggi dan baru mau berbicara bahasa Inggris dan baru percaya diri jika pengucapan sudah menyerupai penutur aslinya. ”Wah sampai kapan belajarnya? Dan bagaimana bisa jika bahasa inggris tidak dijadikan kebisaan sehari-hari? Pepatah bahasa Inggris menyatakan ”Pratice makes perfect” bukan?
Persepsi yang menganggap berbicara bahasa Inggris jika tidak seperti aslinya lalu dicap buruk ini sudah harus dirombak. Sebagai contohnya, adalah negara Jepang, Singapura dan Malaysia, warganya tak malu berbahasa Inggris meskipun dengan dialek Tiongkok, Melayu dan India yang campur aduk di dalamnya.
Faktor lain adalah metode pembelajaran yang kadang kurang menarik bagi anak. Faktor ini tentunya berkaitan dengan kualitas dan kreativitas seorang guru. Guru bahasa Inggris tentunya. Tidak ada kata lain selain penggunakan metode yang menyenangkan bagi anak didik. Kecenderungan di sekolah anak terlalu ditekankan ada penguasaan gramatikal yang sering membuat bsan siswa. Hal tersebut membuat anak merasa terbebani.
Target kurikulum pun jangan sampai membebani anak-anak didik. Kedudukannya sebagai muatan lokal yang memiliki durasi 2 jam pelajaran setiap minggunya, diharapkan dapat memperkenalkan Bahasa Inggris sebagai pelajaran yang menyenangkan. Jika tidak hal ini membuat anak merasa berada di dalam penjara. Mereka tidak mempunyai dan diberikan kesempatan untuk mengeksresikan diri. Belum lagi tidak sedikit guru yang kadang terlalu mendominasi kelas. Bayangkan pada saat kita belajar bahasa Inggris di sekolah. Kira-kira berapa menit setiap anak kebagian waktu untuk berbicara dalam bahasa Inggris? Biasanya anak yang lebih pandailah yang lebih aktif. Sementara yang lain lain lebih memilih membungkam atau malah bercanda atau bergurau dengan teman-temannya.
Pada kasus ini keterampilan guru sangat dituntut agar proses pembelajaran di dalam maupun di luar kelas berlangsung baik. Bagaimana guru menciptakan atmosfir berbahasa Inggris itu yang menjadi tantangan setiap guru. Hal ini tidak hanya bisa dilakukan di lingkungan sekolah. Tetapi juga di rumah. Orang tua bisa bersama-sama anaknya untuk berlatih berbahasa Inggris dan menciptakan atmosfir berbahasa Inggris di rumah masing-masing.
Giatnya masyarakat kita, bangsa Indonesia dalam mendekatkan diri dengan Bahasa Inggris, semoga saja tidak melupakan pentingnya bahasa daerah dan bahasa ibu (mother tongue) yang menjadi ciri khas budaya pendamping hidup manusia Indonesia yang tidak ternilai harganya untuk selama-lamanya.