Catatan Harian

“Marilah kita berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memupuk diri dengan berbagai kebiasaan berbuat baik. Jangan sampai berlaku pepatah "sesal kemudian tiada guna". Tanpa terasa sudah hampir pagi ketika membaca artikel-artikel motivasi di situs pembelajar.com.

Penulis tertarik dengan sebuah artikel dari Toni Yoyo yang berjudul “Refleksi Keseharian”. Beberapa hari belakangan ini motivasi penulis sendiri memang cenderung menurun dikarenakan kurangnya manajemen waktu yang dilakukan. Hal tersebut membuat penulis kerepotan sendiri dalam melaksanakan aktivitas sehingga pada akhirnya berkibat menurunnya kondisi ketahanan tubuh dan sedikit berpengaruh pada emosi penulis. Sehingga kadang suka marah-marah dan sedikit stress. Namun hal itu tidak disia-siakan dan memberikan inspirasi untuk menjadi bahan refleksi dalam artikel yang berjudul “Stop menjadi Si Pemarah (baca: harian equator:edisi 12 September 2007)

Berikut sedikit penulis ceritakan kembali “refleksi Keseharian” yang ditulis oleh Toni Yoyo dengan harapan untuk dapat menjadi bahan renungan dan motivasi bagi kita semua. Seperti orang-orang kebanyakan yang bekerja di kantor, Toni pasti sibuk pada setiap hari kerjanya. Dimulai dari malam hari dengan menyiapkan pakaian kerja untuk esok hari. Dibantu oleh istri yang disebutnya ‘crew’ di rumah, kadang dia menyiapkan bekal makan siang harinya. Tidak hanya itu, dia juga menyiapkan hal-hal lainnya seperti uang yang cukup untuk ongkos transportasi dan antisipasi kebutuhan di perjalanan dan di kantor. Tidak ketinggalan berkas kerja maupun hal lain yang barangkali dibutuhkan, juga beliau persiapkan.

Singkat cerita dia selalu mempersiapkan berbagai hal termasuk jika mau tidur dia dengan menggosok gigi terlebih dahulu, memastikan anak-anaknya sudah tidur, dan pintu serta jendela sudah terkunci. Menarik bukan? Begitulah kebiasaan orang-orang yang mampu memanajeman waktunya. Mereka adalah orang-orang yang selalu ingin memberikan dan berbuat terbaik dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bagaimana dengan anda dan kita semua? Penulis sadar bahwa tidak semua orang mempunyai kebiasaan tersebut. Kadang kita terlarut dalam zona kenyamanan yang membuat kita lupa pada hal-hal penting pada esok hari atau waktu yang akan datang. Sehingga kita sering melakukan sesuatu tanpa perencanaan yang matang. Bukankah gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan?

Persiapan yang buruk biasanya banyak dilakukan para pelajar di Indonesia dalam mengikuti pelajaran di sekolah atau di kampus. Anto misalnya, sebagai seorang mahasiswa, dia begadang semalam suntuk menghadapi ujian akhir penentu kelulusannya. Kamar indekosnya tidak memiliki ruang lagi bagi badan untuk sekadar meluruskan punggung karena dipenuhi buku-buku, fotokopi-an, dan catatan-catatan berserakan. Saat waktu menunjukkan jam 07:00, satu jam lagi ujian berlangsung, konsentrasi Anto terganggu karena sejak kemarin sore mempersiapkan ujian akhirnya ini. Buruknya persiapan dalam belajar ini (SKS atau sistem kebut semalam) membuatnya terasa tersiksa sehingga belajar menjadi beban bagi dirinya.

Membuat persiapan tentunya harus dilakukan dengan kreatif dan efektif sesuai dengan kemampuan kita. bukan sebaliknyas sehingga bisa memberatkan bahkan bisa menyiksa diri sendiri. Oleh karenan bertapa pentingnya persiapan dalam melaksanakan aktivitas sehari, baik itu persiapan untuk pergi ke kantor, persiapan belajar di sekolah atau di kampus, atau dimana saja saja maka kita mulai sekarang belajar untuk memanajemen waktu atau kegiatan kita setiap harinya. Kita dapat membiasakan diri dengan membuat diary atau catatan perencanaan keseharian atau catatan kegiatan yang kita alami sehari-harinya. Dengan mencatat apa yang akan dan telah kita lakukan ini terbukti bisa memberikan manfaat yang besar pagi siapa saja yang melakukannya.

Menulis daftar perbuatan baik kita juga sangat bermanfaat. Namun tidak hanya ditulis tentunya tetapi harus direalisasikan tentunya. Sebab tanpa direalisasikan makan akan menjadi sia-sia dan tidak bermakna. Bukankah berbagai perbuatan baik, mulai dari yang kecil, sedang, sampai besar yang dapat kita lakukan setiap harinya?. Seringkali kesempatan berbuat baik tidak disodorkan ke depan kita tetapi kitalah yang harus secara aktif mencari atau membuatnya. Marilah kita berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memupuk diri dengan berbagai kebiasaan berbuat baik. Jangan sampai berlaku pepatah "sesal kemudian tiada guna".