OPSPEK lagi, OPSPEK lagi!
Uncategorized September 14th, 2007OPSPEK lagi, OPSPEK lagi!
oleh:Supriadi)*
Bagi banyak mahasiswa, masa orientasi adalah masa yang
manis dikenang, tetapi tidak ingin diulang. Berikut
sedikit penulis ceritakan sedikit pengalaman yang
tidak pernah penulis lupakan semasa mengikuti masa
orientasi di kampus beberapa tahun yang lalu.
Pada saat itu kurang lebih pukul 3 pagi sudah
meninggalkan rumah setelah seharian mempersiapkan
berbagai perlengkapan sampailah di persimpangan jalan
yang tidak jauh dari kampus. Berbagai bentuk sambutan
hangat didapatkan di sana. Mulai dari sambutan berupa
tanya jawab layaknya seorang wartawan dengan nara
sumbernya. Disertai tapar pipi kiri, dan tanpar pipi
kanan. Kemudian berbagai hukuman layaknya seorang
tahanan perang bohong-bohongan. Pus-up, sit-up,
lari-lari, perang-perangan, dan berbagai macam lagi
bentuk “kreativitas abang-abang" senior pada saat itu.
Ada-ada saja ide mereka. Tidak sedikit yang
mencucurkan air mata. Namun tidak sedikit pula yang
terlihat penuh semangat dan keceriaan dalam menjalani
semuanya. semua itu merupakan “bumbu-bumbu” penyedap
agar kegiatan berlangsung dengan penuh kreativitas.
Nilai-nilai moral dibalik kegiatan itu yang harus
digali dan ternyata mengandung makna yang sangat
berharga dan tidak ternilai harganya.
Memang benar OPSPEK (Orientasi Program Studi dan
Pengenalan Kampus) yang dilakukan di perguruan tinggi
negeri dan swasta itu kadang-kadang menimbulkan ekses
negatif. Maka aksesnya itulah yang harus dihindari
agar tidak terjadi korban kekerasan bukan Opspeknya
yang harus dihilangkan.
Pro dan kontra seputar penghapusan kegiatan orientasi
seperti tahun-tahun sebelumnya terus menjadi topik
yang hangat untuk didiskusikan. Opspek sebenarnya
merupakan bagian dari tradisi kampus yang tidak perlu
dihilangkan, karena bertujuan positif yakni menyiapkan
mahasiswa baru dari kebiasaan belajar di sekolah
menengah menjadi mahasiswa.
Pembaca yang budiman, kerap terjadi apa yang dialami
di masa opspek bakal dilakukan di masa-masa kuliah.
Bagaimana seorang mahasiswa harus mengerjakan tugas
hingga lembur, strategi apa yang harus dihadapi ketika
harus berhadapan dengan dosen killer, bagaimana
meredam kejengkelan ketika mendapat nilai E, padahal
sudah melaksanakan kuliah dengan rajin. Kejadian ini
merupakan pengembangan dari apa yang dialami di saat
opspek. Bisa disimpulkan bahwa opspek merupakan
kehidupan mini dari apa yang bakal terjadi di
kehidupan kampus selanjutnya. Sehingga wajar jika
dalam mengikuti ospek, dibentak senior karena tidak
mengumpulkan tugas. Karena tidak menutup kemungkinan
hal itu akan terjadi di kemudian hari. Kehidupan
kampus yang lebih bernuansa kebebasan (dibanding saat
di sekolah lanjutan), tentu harus diiringi dengan
sikap, strategi, dan alur pikir yang lebih dewasa.
Hal-hal yang ditugaskan oleh panitia atau senior bukan
harus disikapi dengan anggapan bahwa hal itu merupakan
perpeloncoan semata. Sebagai orang yang mulai beranjak
dewasa, mahasiswa baru dituntut untuk berpikir cerdas,
mencari strategi bagaimana mensiasati atau
melaksanakan tugas para seniornya. Hal ini akan
berlanjut jika memasuki bangku kuliah, kita harus
mempunyai strategi jitu saat menghadapi hambatan dan
rintangan, baik dari dosen, teman, atau bahkan dari
lingkungan yang kerap tidak bersahabat. Perpeloncoan
dari sebuah orientasi kampus ibarat kerikil tajam di
jalanan. Bagaimana strateginya agar kerikil tersebut
tidak terinjak. Inilah seninya memasuki kampus baru
dengan beragam corak kehidupannya.
Di sisi lain bagi mahasiswa baru yang menikmati masa
orientasi dengan ikhlas dan gembira- bisa jadi
masa-masa itu akan selalu dikenang hingga di kemudian
hari. Peristiwa-peristiwa yang unik akan menimbulkan
kenangan tersendiri, walaupun kita sudah cukup lama
mengingatnya.
Apalagi saat kita melihat mahasiswa baru sedang sibuk
menyiapkan segala keperluan ospek, kita akan tertawa
sendiri. Jadi kesannya, masuk perguruan tinggi tanpa
ospek bagaikan masakan tanpa garam. Merenunglah
sejenak dan camkan pertanyaan ini: Apakah kegiatan
orientasi harus ditiadakan? Kalau kita berpikir bijak,
nampaknya jawabannya tidak perlu. Karena segala bentuk
kegiatan akan memunculkan dampak. Sehingga akibat
negatif itulah yang harus diminimalisasi. Harus
diakui, jika kegiatan orientasi mahasiswa baru
dilaksanakan dengan benar, kejadian yang tidak
diinginkan akan sangat kecil. Sebab bisa jadi
peristiwa perpeloncoan yang berakibat fatal hanya
dilakukan oknum. Disadari betul bahwa dalam kehidupan
kita selalu saja ada oknum yang tidak bertanggung
jawab. Perbuatan oknum inilah yang harus
ditanggulangi. Bukan malah menghilangkan beberapa
bagian dari proses yang hasil terbaik yang ingin
dicapai itu justru proses perjalanan itu sendiri.
Sesungguhnya masa oriantasi merupakan bagian terkecil
dari proses pembelajaran yang kita lakukan. Sehingga
apabila proses itu tidak diikuti atau tidak
dilaksanakan maka tujuan yang ingin dicapai tentunya
tidak akan sesuai dengan harapan.
Namun kondisi sekarang sebagian besar mahasiswa baru
tidak lagi menemukan “kegilaan” seperti pendahulunya.
Semoga saja hasil yang lebih baik dapat dicapai
seperti yang kita harapkan dimana tidak hanya bekal
strategi kuliah yang didapat tetapi juga terjadi
ikatan emosional dan komunikasi yang baik antara
mahasiswa baru dan “abang-abang” atau kakak
tingkatnya. Sehingga “atmosfer” kebersamaan dan
kekeluargaan di lingkungan kampus tidak memudar
seperti yang dikhawatirkan banyak pihak. Semoga saja
para pegiat organisasi mahasiswa sekarang tetap fokus
dalam melakukan proses pembinaan atau pengkaderan agar
pergerakan mahasiswa pada masa akan datang tetap
mempunyai "ruh" dan kekuatan serta tidak menyerah
terhadap kondisi sulit yang dihadapi. Semoga…!
February 10th, 2008 at 6:14 am
Sya setuju & itu tersa banget manfaatnya buat kami walau dulunya agak jengkel sih. Ternyata benar, blum tentu yg kt anggap salah itu salah, kebanyakan orang mlht sgl sesuatu hanya dri sudut pandang sndiri.