STOP Menjadi Si Pemarah!

Oleh: Supriadi

"Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah
hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu
tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di
antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak
mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang
bijaksana. Karena waktu akan membantu anda."

Anda biasa marah ? Mungin banyak yang menganggap marah
itu biasa saja dan menjadi hal yang tidak biasa salam
kesehariannya. Terutama bagi mereka yang hidup di
kota-kota besar, mereka yang hari-harinya disibukkan
banyak pekerjaan dan permasalahan. Siapa saja pasti
tidak lepas dari rasa amarah ini. Ketika terlibat
dikemacetan jalan atau terlibat persilisihan atau
salah paham dengan teman atau rekan kerja dan
sebagainya. Memang sulit untuk mengendalikannya
apalagi kondisi kita tidak sedang “balance” baik fisik
maupun mental. Sehingga tidak jarang kita mengalami
strees.

Namun benarkah marah itu biasa-biasa saja dalam
kehidupan kita ini? Marah timbul apabila realitas yang
ada tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Kadang
kita marah jika seseorang menghianati kita. Bahkan
kita bias marah dengan siapa saja. Dengan orang tua,
anak, guru, sahabat, guru, rekan kerja, bahkan marah
terhadap “sang pencipta”. Wow, untuk marah kepada yang
terakhir itu tentunya perlu benar-benar diperhatikan.
Jangan sampai terulang kembali karena bisa membuat
kita celaka bukan?

Marah bisa terjadi dimana saja. Dirumah, dikantor, di
jalan, di pasar, di sekolah, di kampus dan dimana
saja. Di rumah, suami bisa marah marah kepada istrinya
karena sang istri tidak sesuai dengan harapan suami.
Harapan untuk istri tetap cantik dan menjadi istri
yang solehah bisa saja tidak sesuai dengan harapan dan
bisa menimbulkan kemarahan dari seorang suami kepada
istrinya tersebut. Atau sebaliknya. Istri juga bisa
marah dengan suaminya atau dengan anaknya sendiri.
Bahkan anak juga biasa kita jumpai marah dengan orang
tuanya.

Sekarang mari kita melihat marah lebih ilmiah lagi.
Satu langkah awal yang harus dilakukan adalah kita
tidak menganggap marah itu biasa. Marah jelas bukan
hal yang biasa-biasa saja. Marah adalah suatu kondisi
yang luar biasa yang terjadi pada diri seseorang.

Berikut sebuah cerita yang bisa kita renungkan
bersama. Suatu hari sang guru bertanya kepada
murid-muridnya; "Mengapa ketika seseorang sedang dalam
keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat
atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat
tangan dan menjawab; "Karena saat seperti itu ia telah
kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."
"Tapi…" sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya
justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak?
Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang
dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak
satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu
berkata; "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi
kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi
amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat.
Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka
harus berteriak.

Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin
pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak
hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih
jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih
keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan; "Sebaliknya, apa yang
terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka
tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka
berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu
halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa
mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa
demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan
para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun
tak satupun berani memberikan jawaban. "Karena hati
mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada
akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah
pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka
memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan; "Ketika anda sedang
dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak.
Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang
mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat
seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin
merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan
membantu anda."
Kembali ke topik tentang marah tadi. Setelah kita tahu
bahwa realitas tidak seperti yang kita inginkan, maka
benar-benar kita harus sangat arif dan bijak
menghadapi semua hal yang tidak sesuai dengan harapan
kita. Sepertinya kita harus belajar untuk memilah
dengan apa yang terjadi dalam rasa kita.Kita harus
belajar untuk mengendalikan marah kita bukankah rasul
telah bersabda “Yang dikatakan orang kuat bukanlah
orang yang menang bergulat tetapi yang dikatakan orang
kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya
pada waktu marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saatnya kita mulai mengendalikan marah kita dan
berusaha terus untuk menghiasi hati kita dengan
nilai-nilai cinta dan kasih saying. Persoalan apapun
yang terjadi dalam hidup kita, tentu harus kita
selesaikan, namun jangan kita menyertakan marah dalam
penyelesaian itu. Pilihan selalu berada ditangan kita.
Apakah kita ingin menjadi si pemarah atau si pecinta
atau si penyayang?

Semoga kita bisa jadi pribadi yang bisa mengendalikan
amarah dalam diri kita dan sabar dalam menghadapi
ujian hidup ini karena yakinlah semua ujian itu
merupakan bukti kecintaan Sang Maha Pecinta kepada
kita umatnya.