Para Pelajar Yang Perkasa
Pendidikan No Comments »Gak Mau? Jangan Di baca!
Minggu lalu, tanpa
sengaja saya menyaksikan sebuah tayangan menarik di tipi. Tanpa sengaja, karena
biasanya saya jarang sekali menonton tipi di bulan puasa. Entah mengapa saat
itu saya iseng lihat tipi dan pindah-pindahkan cenel. Di salah satu tipi tengah
ditayangkan sebuah liputan “menarik dan mengharukan”. Terlihat
scene suasana kota
lengkap dengan gedung-gedung dan mobil-mobilnya dan hiruk pikuk manusia yang
ramai sekali di jalanan di depan gedung-gedung di antara mobil-mobil. Juga
ditingkahi oleh orang-orang berbaju coklat berlogo bhayangkara,
mengacung-acungkan revolver ke atas sambil sesekali revolver itu menyalak
melepaskan hajat timah panas ke udara.
Menarik dan
mengharukan juga karena ada dua rombongan besar orang di tayangan tersebut yang
tengah berhadapan, dipisahkan jarak beberapa belas langkah. Orang-orang
tersebut menarik perhatian saya karena mengenakan baju yang nyaris sama
berwarna putih dan celana yang juga hampir sama, berwarna abu-abu..
aah… saya ingat, itu jenis pakaian yang disebut seragam, yang pernah saya
kenakan sekitar lima
belas tahun yang lalu saat saya bersekolah. Putih-abu-abu… Rata-rata
mereka menyandang tas, dan haaaii.. apa itu yang mereka pegang..?? potongan
bambu…. Potongan kayu… ooh ada yang memegang batu juga, batu
sebesar kepalan atau lebih besar lagi. Dan
itu… adapula yang sedang memutar-mutar apa itu ya..? ooh, sebuah
ikat pinggang dengan kepala dari besi yang besar dan berkilat….
Adegan paling
“mengharukan’ terlihat ketika satu dari rombongan putih-abu yang
sebelah kiri berhasil dikelilingi dan disapa oleh rombongan putih abu yang
sebelah kanan. Mereka terlihat akrab sekali… mereka tidak sungkan-sungkan
lagi… tanpa ragu mereka menepukkan apa yang mereka pegang dari kayu,
bambu, batu dan sebagainya kepada seluruh tubuh satu orang dari rombongan
sebelah kiri itu. Tapi orang yang satu itu sepertinya agak pemalu, dia berusaha
menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, padahal rombongan putih-abu yang
mengelilinginya sepertinya tidak sungkan kepadanya, terbukti dengan nyata
karena mereka tidak hanya sekali, tetapi banyak kali menepuk-nepuk badannya
dengan bambu, kayu atau batu atau tangan yang jemarinya dikepalkan.
Orang yang satu
itu benar-benar pemalu, sebab akhirnya ia melingkarkan tubuhnya dan membekap
mukanya di atas jalanan aspal disamping sebuah mobil merah. Terlihat banyak
saos tomat berwarna merah disekujur tubuhnya setelah ditepuk-tepuk rombongan
tadi. Ooh, mungkin dia ulang tahun, dan orang-orang itu memberi ucapan selamat
dan salah satu iseng menyiramnya dengan cairan agak merah
kehitaman…sayang keakraban itu lalu dibubarkan oleh orang-orang berbaju
coklat berlogo bhayangkara. Sekilas saya dengar, keakraban itu terjadi di
Bulungan, Jakarta .
Aaah, saya jadi
ingat kejadian yang sama kira-kira 12 tahun yang lalu di dekan Stadion Lebak
Bulus, Jakarta, di bawah jalan tol sebelum wilayah Pondok Indah. Ketika itu
saya sedang di bis dalam perjalanan pulang. Jadi rupanya, anak-anak muda
berseragam putih-abu-abu itu tengah bernostalgia, melacak jejak senior-seniornya
pada masa belasan tahun lalu, ketika banyak sekolah, antar sekolah, saling
bertemu di suatu tempat atau saling mengunjungi. Biasanya mereka dulu itu
saling bertukar batu, bertukar potongan kayu, bertukar potongan bambu, bertukar
ikat pinggang dengan kepala dari gir besi, juga kadang-kadang ada yang bertukar
belati dan samurai yang disarungkan lansung ke lambung orang yang dihadapinya.
Anak-anak muda
itu, yang berseragam putih-abu-abu itu, baik yang saya lihat minggu lalu,
ataupun sekitar 12 tahun lalu, sangat mirip dalam aksi dan performancenya.
Wajah mereka terlihat penuh percaya diri, penuh gairah, kulit berkilat karena
keringat, rambut agak acak karena gerakan yang sebat, terlihat berani maju
tanpa gentar, berkelit dari orang berbaju coklat berlogo bhayangkara, dan
meneriakkan pekik memberi semangat dan aba-aba. Saya sempat perhatikan, senior
mereka 12 belas tahun lalu biasanya tangannya yang kanan lebih besar dan lebih
berotot dari tangan kiri, sebaliknya untuk yang kidal. Tangan-tangan itu lebih
besar karena dipakai berlatih dalam pertemuan antar siswa sekolah tersebut
dengan melempar-lempar batu sebanyak-banyaknya, atau dengan memainkan toya ala
kungfu dari bambu dan kayu. Kalau tokoh sejarah, mereka itu mirip dengan Atilla
the Hun. Waah.. mereka benar-benar terlihat sangat perkasa.
Saya ucapkan
selamat untuk dunia pendidikan Indonesia ,
karena berhasil menciptakan manusia-manusia muda perkasa yang kelak akan
membawa negeri ini ke dalam kehancuran total yang tak pernah terbayangkan
sebelumnya. Selamat tinggal kenyataan, selamat datang impian dan harapan.
Selamat juga
kepada media massa Indonesia yang telah menyuguhkan banyak tayangan yang
demikian hebat, bermutu, penuh dengan ceceran cairan berwarna merah kehitaman,
penuh dengan pekik semangat, penuh dengan kilatan besi yang ditipiskan, penuh
dengan batu-batu yang berterbangan…..penuh dengan mata melotot dan tangan
terkepal, tentu sangat bagus untuk dijadikan bahan ajar anak-anak muda lainnya,
dan pasti akan ditiru seratus persen. Duplikasi itu sesuatu yang pasti.
Salam keprihatinan
yang mendalam untuk dunia pendidikan dan media kekerasan.
Selamat mengisi
akhir ramadhan dengan penuh khusyu’, sampai jumpa Insya Allah selepas
liburan lebaran. Mohon maaf atas segala yang selama ini tidak berkenan.Bekasi, 06 Oktober
2007M/24 Ramadhan 1428H by Ahmad Sopiani